MANUSIA PURBA

1,518 kali dibaca

Sederhana saja, aku mulai membayangkannya
dalam riang
kanak-kanak bermain layang-layang,
engklek, kelereng, gobak sodor hingga petang
kali, rawa-rawa, ngarai, sawah ladang
mengajarinya tumbuh sebagai petualang

Jujur saja, aku mulai merindukannya
dalam erat
anak-anak renyai canda tawa bersama
ayah bunda di rumah-rumah kecil mereka
bertanya, berdiskusi, dan berbagi cerita
tanpa tertohok angka-angka

Advertisements

Entah saja, aku mulai mengkhawatirkannya
saat bertemu, antara kita bertegur sapa
saat bertamu, antara kita berserak cerita
tanpa tersekat pangkat, jabatan, dan harta

Sebenarnya, aku mulai membaca tanda-tanda
perangai hujan, angin, dan ombak
dikacaukannya musim dan waktu tak lagi baku
tak lekas disajikannya rintik dan sepoi di bulan Juli
tak jua dibentangkannya cakrawala di Januari
berganti bah, taufan, dan tsunami

Hutan tak lagi ramah bagi satwa
masjid tak lagi sakral bagi pendoa
pesantren tak lagi utama bagi para santri
rumah tak lagi teduh bagi para penghuni
dan gawai, menjadi kitab suci yang terbawa
di warung kopi, mall, sekolah, dan sudut musalla

Aku semakin purba
ditinggal lari peradaban zaman
perlahan mati dalam kecamuk ideologi
dan halusinasi.

Tinggalkan Balasan