Lailatul Qadar dan Silang Pendapat Ulama

272 kali dibaca

Salah satu keistimewaan yang terdapat dalam bulan suci Ramadan adalah turunnya Lailatul Qadar yang dikenal pula dengan Malam Seribu Bulan. Lailatul Qadar memang turun pada bulan suci Ramadan.

Setiap muslim tentu mengharapkan bisa berjumpa dengan malam mulia tersebut. Salah satu alasannya karena umat Islam yang bermunajat pada malam itu akan dikabulkan oleh Allah Swt. Namun, tentang kapan waktu turunnya, tidak ada yang dapat memastikan. Yang jelas, para ulama berbeda pendapat mengenai waktu terjadinya malam seribu bulan ini.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Berkaitan dengan waktu turunnya malam Lailatul Qadar, Ustaz Abdul Wahab Ahmad menjelaskan sebagaimana yang telah disiarkan di media NU Online (26/05/2019), bahwa sebagian ulama, yakni Utsman bin Abi al-‘Ash dan Hasan al-Bashri dan sebagian Syafi’iyah menyatakan bahwa yang paling bisa diharapkan adalah sepuluh hari kedua bulan Ramadan. Sementara mayoritas ulama mengatakan, yang paling bisa diharapkan adalah tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir. Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, ini adalah pendapat yang paling kuat (Fath al-Bary, IV, 263).

Sementara, sabda Nabi Muhammad Saw dalam salah satu hadis:

كَانَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهَا

Artinya: “Nabi bersungguh-sungguh pada sepuluh akhir bulan Ramadan, yang mana tidak dilakukan oleh beliau pada sepuluh terakhir pada bulan-bulan lainnya.”

Hadis ini riwayat dari Imam Ahmad dan Muslim.

Ada hadis yang lafaznya hampir sama dan maknanya juga sama, serta status hadisnya muttafaq ‘alaih:

أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – كَانَ إذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الْأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ الْمِئْزَر

Artinya: “Apabila telah memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadan, maka Nabi Muhammad Saw menghidupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya dan mengencangkan sarungnya.(Nailul al-Authar, IV, 319).

Jamaluddin Muhammad Jauzi di dalam kitab Kasful al-Muskil min Hadis Shahihain dan Badruddin al-Aini di dalam kitab Syarah Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadis yang pertama atau yang kedua tersebut memiliki dua interpretasi.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan