Komunisme, Siapa Takut?

2.220 kali dibaca

Berkaitan dengan isu komunisme Indonesia, sejarawan terkemuka, Ong Hok Ham, pernah membuat parodi menarik. Katanya, Indonesia selalu ketinggalan 50 tahun dari negara dan bangsa lain dalam menyikapi komunisme. Seandainya orang luar Indonesia mendengar kiamat akan segera tiba, maka orang-orang luar itu pasti akan berduyun-duyun hijrah ke Indonesia karena mereka yakin bahwa informasi kiamat itu baru akan terdengar di Indonesia 50 tahun kemudian.

Parodi itu memang pahit, tetapi apa boleh buat. Hantu dan trauma komunisme di Indonesia begitu mendalam bagi sebagian kelompok orang. Dengan mengerahkan seluruh argumentasi dan energi, mereka hendak menunjukkan kekuatannya (show of force) kepada hantu yang tak jelas di mana dan yang belum tentu ada itu. Dengan begitu, mereka merasa hantu itu akan hilang dan mungkin juga trauma itu akan terhapus denga sendirinya.

Advertisements

Respons kontra terhadap usul KH Abdurrahman Wahid (waktu itu pesiden RI) untuk mencabut TAP MPRS NO. XXV/MPRS/1966 di akhir 1999, penggagalan paksa pertemuan Lembaga Penelitian Korban (LPKP) 1965 di Magetan pertengahan Januari 2003, penolakan Wapres Hamzah Haz dimasukkannya rekonsiliasi kaum komunis dalam RUU Rekonsiliasi Nasional (Kompas, 20/3/2003), dan penggagalan Halaqah Rekonsiliasi Desantara-Averrus di Blitar 1 Mei 2003 jelas memperlihatkan betapa hantu dan trauma itu demikian luas-mendalam, dan anehnya terus dipelihara. Bukankah bahasa politik masih menyebutnya sebagai: bahaya (kadang ditambah laten) komunis.

Di Berlin Barat, sebelum tembok Berlin runtuh, terbentang sebuah billboard foto Karl Marx berukuran raksasa sedang menunjuk tembok Berlin Timur. Di billboard itu digambarkan penggagas pertama Marxisme ini sedang berdiri dan berbicara: “Ini kan cuma ide. Bukankah sebuah ide selayaknya dilawan dengan ide, mengapa kalian bunuh-bunuhan”. Sebuah peringatan bagi generasi yang jauh dari Karl Marx sendiri tiada, ketika Marxisme benar-benar menjadi perdagangan politik.

Marxisme kemudian memang tidak lagi hanya sekadar ide dan pemikiran. Terutama di tangan Lenin dan Mao Tse Tung, ia berubah kelamin menjadi gerakan, meskipun di sisi lain, ia juga tetap sebagai ide dan pemikiran dengan perubahan-perubahan tertentu yang kemudian kita kenal dengan sosialisme. Dalam perkembangannya menjadi gerakan inilah marxisme (sering ditambah dengan Leninisme) tampil garang, ekstrem, dan mengedepankan revolusi sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan.

PKI sering disebut-sebut sebagai penganut madzhab Lenin dan Mao, meskipun sebenarnya tidak sedikit mereka yang dicap sebagai tokoh-tokoh komunis bermadzhab lain. Tan Malaka, tak diragukan lagi, adalah penganut Marxisme-Komunisme yang gigih. Tetapi ia pun harus menerima cap “penghianat” dari pelaku pemberontakan PKI 1926 karena mengajukan pertimbangan-pertimbangan rasional terhadap rencana revolusi waktu itu. Begitu pula Haji Misbach dari Solo, Hasan Raid (Jakarta), Muslimin Yasin (Sumbawa-Jakarta), Muhammad Baisir (Mataram), dan Ahmad Chatib yang bergelar Datuk Batuah (Sumatera Barat).

Tokoh yang terakhir, sama seperti Haji Misbach, sempat menggemparkan sekaligus mengkhawatirkan di tahun 20-an terutama di Sumatera Barat. Murid ulama terkemuka di Sumbar, Haji Rasul, yang pernah menjadi guru, salah seorang pemimpin pesantren Thawalib Padang Panjang, dan pelopor berbagai sekolah Islam di Batu Sangkar dan Bukit Tinggi ini secara terang-terangan memproklamasikan diri sebagai komunis.

Fenomena seperti itu terjadi tidak hanya di Indonesia. Gamal Abdul Nasser (Mesir), Muammar Kadhafi (Libya), dan Saddam Hussein (Irak), sekadar menyebut beberapa contoh, adalah para tokoh yang berhasil mengawinkan Islam dengan Marxisme. Konon, beberapa pemikir Islam kontemporer di Iran, seperti Ali Shariati dan kalangan pemuda Mojahidin-I Khalq sangat terpengaruh oleh Marxisme. Bahkan para pemimpin partai Pudeh, pendukung setia Khomaeni dalam menggelar revolusi Iran, sangat kental marxis-nya.

Baca juga:   Nalar Aktivisme NU dalam Merawat Tradisi Ngaji ala Pesantren

Di Amerika Latin, Katholik berhasil dikawinkan dengan Marxisme-Komunisme. Agama yang paling luas dipeluk dan sangat berpengaruh di seluruh Amerika Latin ini kemudian mendapatkan kegairahan baru cara memandang kekatholikan yang bermuara terumuskannya “Teologi Pembebasan”. Sebuah teologi yang bukan saja mampu menggedor kebekuan umat Katholik di seluruh dunia, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap pemikiran keislaman kalangan muslim di banyak negara. Dalam beberapa hal, sebenarnya seperti itu pula yang dilakukan Mao di Cina. Kemapanan Kong Hu Cu berakibat pada kebekuan dan kejumudan yang dilambangkan dengan tidurnya si naga raksasa. Dan Mao, si naga merah yang mungil justru dapat menelan naga raksasa yang sedang tidur lelap.

Apriori dan keburu nafsu ambil kepastian, apa pun alasannya, memang tak menguntungkan. Dalam konteks ini, mungkin anjuran Mohammad Hatta penting disebut di sini. “Saya menganjurkan kepada bangsa saya agar bersikap terbuka terhadap ajaran-ajaran Marx dan Engels, karena bangsaku sering mendapat gambaran yang pincang; Marx sering digambarkan sebagai perusak mental, politikus fanatik, penghancur agama dan negara”. Dan pada saat yang lain, Hatta juga bilang: “Saya terima ajaran materialism-historis sebagai teori, bukan sebagai dogma”. Sebuah pernyataan yang ternyata sinkron dengan keinginan Karl Marx sendiri ketika ia menandaskan “Saya bukan marxis” kepada marxis-mania yang menelan habis pikiran Marx sebagai ajaran mati. Dan Marx sendiri akhirnya memilih “Kembali ke British Museum” sebagai langkah strategis terakhirnya.

Di sini jelas soalnya bukan pada Marxisme-Komunisme itu sendiri, tetapi pada fanatisme dan ekstremisme. Lenin dan Mao memegang Marxisme dengan harga mati jelas berbeda dengan Karl Marx yang tak mau disebut marxis. Pilihan revolusi sebagai satu-satunya cara mengubah keadaan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang diayunkan baik oleh Lenin maupun Mao tak terbetik di benak Karl Marx dan pengikutnya seperti Hatta, Soekarno, Nasser, Samaoen, Datuk Batuah, dan Haji Misbach.

Tetapi fanatisme-ekstrem tidak hanya monopoli Marxisme-Komunisme. Ia bisa berinduk pada apa pun yang dimutlakkan: agama, politik, ekonomi, ras, dan etnik. Agamawan dan politisi bisa tampil garang menghadapi paham atau orang lain yang dipandang tak sesuai dengan dan menyimpang dari apa yang dipercaya oleh mereka sebagai kebenaran. Kita masih ingat bagaimana aksi-aksi sweeping (penggrebekan) kafe, bar, dan karaoke dilakukan serta bagaimana oposisi dipasung dan suara berbeda dibungkam. Rhoma Irama dengan tasbih di tangannya bisa tampil menyeramkan ketika menghadapi Inul, penyanyi desa yang tidak tahu apa-apa kecuali ingin hidup survive. Saling bunuh Dayak-Madura beberapa waktu lalu, lupakan dulu sebab-sebab lain, sangat mungkin kita kembalikan pada fanatisme ekstrem ini.

Dengan parodinya di atas, Ong hendak mengatakan bahwa komunisme kini tak lebih hanyalah sebuah dongeng, nostalgia, dan bagian dari masa lalu. Penghantuan komunisme di Indonesia, di samping sangat politis, sekaligus menunjukkan bahwa kita ketinggalan zaman. Komunisme poros Peking maupun Moskow yang dulu sangat berpengaruh, kini telah redup, bahkan sebagian analis memastikan telah mati justru di negara “pabrik”nya sendiri.

Entah apa yang mau dikata dan dilakukan oleh Lenin dan Mao andaikata mereka menyaksikan kenyataan riil ekonomi Rusia dan Cina sekarang yang tak mungkin menghindar dari kapitalisme global. Entah apa pula respons mereka ketika menyaksikan tembok Berlin dijebol dan diluluh-lantakkan, sehingga Berlin Timur dan Barat yang dulu bertolak belakang menjadi tak berbeda.

Baca juga:   Dinamika Tafsir Maqashidi

Bukan itu saja. Di China, kini dapat kita jumpai beberapa restoran yang sengaja mendesain interiornya termasuk lantai, dengan gambar Mao yang cukup ramai dikunjungi orang untuk bersantai (rekreasi). Di restoran ini, pengunjung termasuk orang-orang China sendiri bercengkerama, bersenda gurau tanpa beban, bahwa kakinya sedang menginjak (gambar) kepala Mao. Sementara di Rusia, Lenin kini telah menjadi patung-patung kecil dari gantungan kunci sampai hiasan meja yang didesain sangat lucu. Patung-patung Lenin itu dengan sangat mudah dapat kita beli di setiap kios souvenir di kota-kota besar Rusia (biasanya dijejerkan dengan patung Stalin).

Mao Zedong menulis pesan kepada istrinya, Jiang Qing. “Kata yang sedikit ini mungkin pesan terakhirku untukmu. Hidup manusia terbatas, tetapi revolusi tak mengenal tepi. Dalam perjuangan selama sepuluh tahun terakhir ini aku telah mencoba puncak revolisi, tapi aku tak berhasil. Kau mungkin bisa mencapai yang   tertinggi. Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu akan remuk”. Dan ternyata kegagalan revolusi China benar-benar membuat tubuh dan tulang-tulang komunisme  lumat remuk di dasar ngarai.

Lenin dan Mao telah lama tiada. Doktrin komunismenya pun mengiringi kepergian mereka secara pelan tapi pasti. China berubah, begitu pun Rusia dan Eropa Timur pada umumnnya. Kini, Lenin dan Mao tak lebih dari sebuah asesoris yang hanya menguntungkan bagi para pengrajin, pedagang, dan pengusaha restoran. Tak beda dengan lambang Swastika dan foto Hitler lengkap dengan kumisnya yang dijadikan interior sebuah restoran di Soul, Korea Selatan, atau asesoris Jurassic Parknya Steven Spielberg.

Masih takutkah pada Komunisme? Jangan-jangan penghantuan Komunisme di negeri kita tercinta ini sama persis ulah pengrajin-pedagang di Rusia, pengusaha restoran di China dan Korea Selatan. Keduanya sama-sama hanya mengejar untung. Bedanya, mungkin, jika Rusia, Korea Selatan, dan China benar-benar berupa perdagangan murni (ekonomi) dengan komoditi konkret dan kasat mata, sementara di Indonesia lebih berupa perdagangan politik dengan komoditi hantu yang tak kasat-mata dan tak diketahui rimbanya.

Dalam acara dialog di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) awal tahun 2000, saya – panel dengan HM Sumargono (PBB), HM Nazri Adlani (MUI), dan Munir (Kontras) – ditanya presenter: apakah Anda tidak gusar, marah, dan protes dengan tesis penting Marxisme bahwa Tuhan telah mati (atheis)? Saya jawab: tidak, sama sekali tidak. Karena Tuhan yang diserang, didamprat, dinafikan, atau dibunuh Karl Marx bukan Tuhan saya. Tuhan yang dituju Marxisme adalah tuhan yang menindas kaum buruh, rakyat kecil (konspirasi gereja dan kaum borjuis-kapitalis). Tuhan saya Al-Rohman, Al-Rohim, Maha Adil, menyayangi kaum dhuafa, fuqara, kaum tertindas, dan kaum marjinal. Dan saya yakin ini hingga haq al-yaqin.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan