Komunisme, Siapa Takut?

1.945 kali dibaca

Berkaitan dengan isu komunisme Indonesia, sejarawan terkemuka, Ong Hok Ham, pernah membuat parodi menarik. Katanya, Indonesia selalu ketinggalan 50 tahun dari negara dan bangsa lain dalam menyikapi komunisme. Seandainya orang luar Indonesia mendengar kiamat akan segera tiba, maka orang-orang luar itu pasti akan berduyun-duyun hijrah ke Indonesia karena mereka yakin bahwa informasi kiamat itu baru akan terdengar di Indonesia 50 tahun kemudian.

Parodi itu memang pahit, tetapi apa boleh buat. Hantu dan trauma komunisme di Indonesia begitu mendalam bagi sebagian kelompok orang. Dengan mengerahkan seluruh argumentasi dan energi, mereka hendak menunjukkan kekuatannya (show of force) kepada hantu yang tak jelas di mana dan yang belum tentu ada itu. Dengan begitu, mereka merasa hantu itu akan hilang dan mungkin juga trauma itu akan terhapus denga sendirinya.

Advertisements

Respons kontra terhadap usul KH Abdurrahman Wahid (waktu itu pesiden RI) untuk mencabut TAP MPRS NO. XXV/MPRS/1966 di akhir 1999, penggagalan paksa pertemuan Lembaga Penelitian Korban (LPKP) 1965 di Magetan pertengahan Januari 2003, penolakan Wapres Hamzah Haz dimasukkannya rekonsiliasi kaum komunis dalam RUU Rekonsiliasi Nasional (Kompas, 20/3/2003), dan penggagalan Halaqah Rekonsiliasi Desantara-Averrus di Blitar 1 Mei 2003 jelas memperlihatkan betapa hantu dan trauma itu demikian luas-mendalam, dan anehnya terus dipelihara. Bukankah bahasa politik masih menyebutnya sebagai: bahaya (kadang ditambah laten) komunis.

Baca juga:   Ribuan Santri Mustafawiyah Sudah Kembali ke Pondok

Di Berlin Barat, sebelum tembok Berlin runtuh, terbentang sebuah billboard foto Karl Marx berukuran raksasa sedang menunjuk tembok Berlin Timur. Di billboard itu digambarkan penggagas pertama Marxisme ini sedang berdiri dan berbicara: “Ini kan cuma ide. Bukankah sebuah ide selayaknya dilawan dengan ide, mengapa kalian bunuh-bunuhan”. Sebuah peringatan bagi generasi yang jauh dari Karl Marx sendiri tiada, ketika Marxisme benar-benar menjadi perdagangan politik.

Baca juga:   Islam, Sejarah, dan Indigo

Marxisme kemudian memang tidak lagi hanya sekadar ide dan pemikiran. Terutama di tangan Lenin dan Mao Tse Tung, ia berubah kelamin menjadi gerakan, meskipun di sisi lain, ia juga tetap sebagai ide dan pemikiran dengan perubahan-perubahan tertentu yang kemudian kita kenal dengan sosialisme. Dalam perkembangannya menjadi gerakan inilah marxisme (sering ditambah dengan Leninisme) tampil garang, ekstrem, dan mengedepankan revolusi sebagai satu-satunya cara untuk melakukan perubahan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan