Kiai Dimyati Rois dan Pijar Kesederhanaannya

672 kali dibaca

Di masa Orde baru, Mbah Hai Dimyati pernah menjadi Utusan dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk bergabung di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Kiai kelahiran Tegal, Jawa Tengah, pada 1945 ini adalah kiai yang lampah-nya seperti al Maghfurrullah Haddratussyaih KH Maimoen Zubair. Kiai yang tidak hanya mengurusi pesantren, tetapi juga melipat jarak di berbagai kancah perpolitikan dan gerakan kebangsaan.

Dari PPP sampai Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) adalah sejarah politik yang ditorehkan. Dalam gerakan NU tidak diragukan lagi. Beliau baik secara struktural maupun kulturla berperan sangat besar dalam organisasi NU. Di samping menjadi Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), beliau juga menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat di bawah. Di kalangan santri, misalnya, beliau dikenal sebagai mubaligh yang dalam ilmunya, luas pandangannya, sederhana kehidupannya. Sehingga masyarakat umum sangat mengenal beliau.

Advertisements

Ada hal menarik yang bisa kita teladani dari beliau. Ini urusan kesederhanaan. Hidup sederhana tentu berbeda dengan menjalankan nilai-nilai kesederhanaan. Dalam salah satu biografi singkat beliau yang ditulis tim Laduni.id, dikatakan bahwa beliau adalah pribadi yang sederhana, bahkan tidak makan jika tidak benar-benar lapar.

Baca juga:   Mengenang Nyai Solichah, Istri dan Ibu Para Pejuang

Salah satu kenalan saya di FB, kebetulan santri dan kerabat beliau, juga pernah bilang bahwa Kiai Dim Kaliwungu adalah sosok yang benar-benar membumi. Siapa saja disapa dan disambut jika bertamu. Sosok yang selalu menyebarkan senyum dan adem saat ngobrol bersama beliau.

Dalam tradisi pesantren, Kurdi (2021) menjelaskan bahwa salah satu prinsip sosial yang dibangun dalam kehidupan pesantren adalah penerimaan dari dalam pesantren terhadap realitas sosial. Artinya, ada keterbukaan dari dalam pesantren terhadap siapa pun, tanpa memandang status sosial tertentu, atau bangsa atau bahkan agama tertentu.

Baca juga:   Gus Maksum, Pendekar Nyentrik dari Tanah Jawa

Tak bosan-bosan dipertegas oleh Gus Dur bahwa kemanusiaan itu berada di atas apa pun. Artinya, pesantren memiliki tanggung jawab sosial kemanusiaan yang luar biasa. Utamanya dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan