Khatib Salat Jumat

188 kali dibaca

Junaidi mendongakkan kepala begitu mendengar suara yang tidak asing berasal dari mihrab masjid. Di balik mimbar sudah berdiri seorang pria bergamis putih, lengkap dengan serban putih yang melilit kepalanya, sedang membetulkan mikrofon sembari berdeham tiga kali.

Tidak hanya Junaidi, deham pria itu turut mengundang jemaah lain menatapnya. Dia Aba Husein, usianya enam puluh, khatib senior sekaligus merangkap imam masjid di kampung.

Advertisements

“Ma’asyiral muslimin rahimakumullah. Alhamdulillah, pada Jumat yang mulia ini kita masih diberi kesempatan untuk bersama-sama menjalankan ibadah salat Jumat tanpa ada halangan suatu apa pun. Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, semoga ketakwaan itu bisa menyelamatkan kita dari api neraka dan menempatkan kita di dalam surga-Nya.”

Aba Husein memulai khotbahnya. Suaranya kemerosok bak radio tua yang tidak mampu menangkap gelombang siaran dengan baik. Jemaah mengerutkan kening mengetahui suara itu berasal dari amplifier TOA yang sudah berkali-kali diperbaiki, namun tetap saja suara yang dihasilkan mengganggu pendengaran.

Sebagai seorang yang dipercaya menjadi tokoh agama di kampung, Aba Husein merasa berhak menuntun umat untuk meningkatkan nilai ibadah. Seperti yang sudah-sudah, materi yang dibawakan Aba Husein tidak jauh dari ihwal surga-neraka. Ia selalu menekankan agar umat senantiasa menjaga hubungan dengan sang Khalik. Padahal, jemaah sudah jenuh dengan instruksi yang itu-itu saja. Bukannya mereka mengabaikan bagaimana tata cara beribadah untuk meraih surga-Nya, namun ada satu lagi nilai yang tidak kalah penting terlupa dari Aba Husein, yaitu tata cara berhubungan dengan sesama manusia.

Junaidi menarik napas dalam-dalam, melegakan dadanya yang terasa menyempit. Suara khatib menenggelamkan helaan napasnya. Suara Aba Husein makin menggelegar.

“Bukannya Jumat ini jatahnya Mas Ali, ya?”

“Harusnya iya. Tahu sendiri ‘kan Aba suka nyerobot jatah orang.”

Terdengar kasak-kusuk tepat di belakang saf Junaidi. Tidak banyak yang berani berbisik-bisik jika berkenaan dengan Aba Husein. Orang-orang memilih diam daripada terkena masalah. Kedua jemaah kembali terdiam seperti yang lain; menyimak apa yang diucapkan sang khatib.

Sesungguhnya, perihal khatib Jumat sudah sudah pernah dibicarakan pada acara pertemuan majelis pengurus masjid dan tokoh agama. Selama ini hanya Aba Husein yang maju menjadi khatib, sementara yang lain menolak secara halus lantaran merasa belum mampu.

Pada acara pertemuan pengurus masjid dan tokoh agama, nama Ali disebut-sebut menjadi kandidat sebagai khatib Jumat. Ia lulusan Sarjana Agama sekaligus mengabdi di madrasah aliah negeri di saat usianya belum genap dua puluh tahun.

“Kalau khatib sebelumnya masih mampu, kenapa harus diganti?” demikian sanggah Aba Husein dalam pertemuan tersebut. Tidak ada yang menanggapi. Orang-orang yang sebelumnya mengusulkan nama Ali, mendadak menciut nyalinya bila sudah berhadapan dengan Aba Husein.

Baca juga:   Knowing The Ghazali of Java

Junaidi, yang juga menjadi bagian dari pengurus masjid angkat bicara. “Warga kita butuh sosok inspirator baru. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kepada yang lebih muda. Toh, anak muda yang nantinya akan memakmurkan masjid jika kita-kita yang di sini sudah pada sepuh,” lontarnya.

Ada keinginan yang menyeruak seketika di dada Junaidi. Keinginan yang sejatinya sudah lama terpendam, yang juga barangkali keinginan para jemaah. Telah lama ia ingin kampungnya memiliki sosok yang benar-benar mengerti kebutuhan umat. Nilai ilahiyah memang penting, sebagaimana yang sering dikatakan Aba Husein agar umat senantiasa ingat kepada sang Pemilik Hidup. Namun, nilai insaniyah juga diperlukan untuk mengantisipasi terjadinya perpecahan umat di tengah gonjang-ganjing kondisi umat Islam saat ini.

Tetapi, ia selalu tidak punya kesempatan untuk mendebat Aba Husein, bukan karena tidak berani, namun ia takut dianggap tidak sopan kepada yang lebih tua. Maka ketika petang itu sekretaris masjid mengumumkan mengadakan pertemuan, Junaidi lekas-lekas menyampaikan pendapatnya.

Aba Husein tidak mendebat. Itu artinya, mulai pekan berikutnya ada dua nama yang akan bergantian mengisi khotbah Jumat.

***

Sesungguhnya surga itu dikepung oleh segala sesuatu yang sulit diraih, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat, hal-hal yang menyenangkan manusia.

Junaidi kembali menyimak. Tangannya menepuk-nepuk perut. Cacing-cacing di dalamnya mulai anarkis minta jatah. Ia tahan sebisa mungkin agar suaranya tidak sampai ke telinga jemaah lain. Bila di sawah, waktu-waktu serupa itu Junaidi akan membakar ketela pohon atau jagung di pematang dan memakannya panas-panas.

Junaidi beralih mendongak ke atas sebentar, memperhatikan baling-baling kipas yang berputar tak beraturan di atas ubun-ubunnya. Kadang berputar, kadang diam, menciptakan suara bising yang tersendat-sendat. Kipas sudah lama rusak, namun belum sempat diperbaiki atau digantikan yang baru.

Belum jua hilang keroncongan di perut, apalagi rasa pegal di bokongnya karena kelamaan duduk, dua-tiga nyamuk berdengung-dengung mengitari telinganya. Sesekali telapak tangannya menampari lengan dan kaki sendiri ketika nyamuk singgah di atas kulitnya yang kering dan legam terbakar matahari. Ia juga tidak habis pikir, tidak di sawah, tidak di masjid, nyamuk-nyamuk begitu membabi buta mencumbui kulitnya.

Lain dari itu, pikiran Junaidi melompat jauh, teringat padinya yang sudah mulai merunduk. Tiap hari ia ke sawah, mengusir burung liar yang memakan padi-padinya. Junaidi nyaris di sawah sepanjang pagi, sore, petang, acapkali malam kalau menjaga air untuk mengairi sawah yang tengah disemai padi. Namun, jika tiba panggilan menyeru, ia tinggalkan sejenak sawahnya dan gegas membawa kakinya menghadiri panggilan salat.

“Jemaah Jumat rahimakumullah Mari bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar senantiasa dianugerahi taufik dan hidayah-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita semua sebagai hamba yang kelak menghuni surga-Nya.”

Baca juga:   Kucing Sang Koruptor

Khotbah Aba Husein makin berapi-api.

Selembar kertas HVS masih tertempel di salah satu dinding masjid. Kertas yang berisi jadwal khatib dan imam yang disepakati ketika pertemuan pengurus masjid. Aba Husein telah menjadi khatib pekan sebelumnya. Itu artinya kini giliran Ali yang bertugas. Namun, tanpa disangka-sangka Aba Husein justru mendahului naik ke atas mimbar ketika Ali tengah menyelesaikan salat qobliyah Jumat.

Junaidi menghitung-hitung angka dengan jemarinya, serupa zikir untuk mendinginkan tubuhnya yang panas. Ia melirik jam dinding satu-satunya yang terpampang di salah satu sisi masjid. Hampir satu jam berlalu, namun belum ada tanda-tanda Aba Husein mengakhiri khotbah pertamanya. Aba Husein seolah hanya ingin mendengar omongannya sendiri, tidak peduli jemaah sudah mengantuk dan bosan, atau bahkan memiliki keperluan lain yang tidak kalah penting.

Di tengah ceramah Aba Husein yang berapi-api, mendadak ada suara deham tiga kali; sebuah penanda untuk mengingatkan Aba Husein agar tidak terlalu lama dan panjang. Namun, bukannya mengerti maksud dari deham tersebut, Aba Husein justri mendobrak meja mimbar. Ia perhatikan satu per satu wajah jemaah yang seolah mengabaikan dirinya.

Jika Ali yang menjadi khatib, biasanya hanya membutuhkan waktu dua puluh menit saja. Ia akan menyampaikan fokus pada hal penting, bukan menyampaikan sebanyak-banyaknya. Namun, penyampaiannya tetap berkesan. Sebab, bukan berarti yang banyak itu hal penting.

Junaidi mengelap wajahnya. Batinnya pun hendak berkata: khotbah Jumat disunnahkan untuk tidak terlalu lama. Bahkan sebaliknya, khotbah dipersingkat dan bacaan salat diperpanjang. Tapi, bukan berarti khotbah yang singkat tapi mereduksi makna. Namun, terasa kelu lidahnya. Junaidi hanya menyimpannya rapat-rapat.

Junaidi terkesiap tatkala ikamah dikumandangkan dan Aba Husein turun mimbar. Saf-saf diluruskan. Imam segera mengangkat takbir. Ayat suci merdu keluar dari bibir sang imam.

Matahari siang itu kian tergelincir bersama wajah Junaidi yang terus berkeringat sembari menjaga konsentrasi untuk menyelesaikan salat Jumat hingga salam. Kendati tak dapat dimungkiri, pikirannya kacau jika terbayang sudah berapa banyak burung yang telah melumat habis padinya.

Peluh membanjiri pelipisnya. Junaidi kembali mengelap kening. Entah berapa banyak keringat berguguran menimbulkan bercak bulat-bulat di atas kain sajadahnya. Bersamaan dengan itu, kecemasan Junaidi disudahi suara jemaah yang terdengar nyaring, bahkan bisa dibilang riuh. Mereka bersama-sama mengucap, “Aamiin.”

KOMPAK Yogyakarta, Februari 2022.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan