KH Zuhri Zaini: Sosok yang Alim dan Rendah Hati

245 kali dibaca

Penampilannya cukup sederhana nan bersahaja. Tutur katanya yang begitu lembut, halus, dan santun membuatnya disukai dan dicintai banyak orang. Setiap melihatnya, aura kesejukan dan ketenangan terpancar di dalam dirinya. Baju kokoh, peci, dan sarung berwarna putih seakan telah menjadi ciri khasnya. Hari-harinya dipenuhi dengan aktivitas bermanfaat, seperti mengajar dan membimbing santri-santrinya. Juga mengayomi masyarakat.

Itulah KH Zuhri Zaini, putra kelima dari pasangan KH Zaini Mun’im dan Nyai Nafi’ah. Beliau lahir di Probolinggo, Jawa Timur pada 5 Oktober 1948. Karier pendidikannya dihabiskan di Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, sebuah pesantren yang didirikan langsung oleh ayahanda Kiai Zuhri, KH Zaini Mun’im. Mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah hingga ke Perguruan Tinggi, dan akhirnya menyandang gelar BA (singkatan dari Bachelor of Arts).

Advertisements

Di pesantren asuhan ayahandanya ini, Zuhri mudah mempelajari pelbagai ilmu pengetahuan, khususnya tentang ilmu-ilmu keislaman. Misalnya, ilmu gramatika bahasa Arab melalui kitab-kitab seperti Jurumiyah, Mutammimah, Alfiyah, dan Ibnu Aqil. Juga kitab-kitab fikih, semisal Safinatun Najah, Sullamut Taufiq, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, dan lain sebagainya.

Baca juga:   Mengenang Nyai Solichah, Istri dan Ibu Para Pejuang

Merasa tidak puas hanya belajar di pesantrennya sendiri –meski telah menyandang gelar BA– Zuhri muda akhirnya melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Pesantren Sidogiri Pasuruan selama tiga tahun. Di pesantren inilah, beliau belajar langsung tentang ilmu-ilmu keislaman kepada (alm) KH Cholil Nawawi, salah satu pengasuh pesantren tertua tersebut.

Berkat didikan langsung keluarga dengan ditopang semangat tinggi dalam menimba ilmu pengetahuan, tidak heran jika Kiai Zuhri tumbuh menjadi sosok yang sangat mahir dan alim, khususnya di bidang ilmu agama.

Baca juga:   Karomah Mbah Dimyati

Bahkan, kealimannya tersebut sudah masyhur di kalangan masyarakat, terutama wilayah Jawa Timur. Terbukti, ndalem Kiai Zuhri nyaris tak pernah sepi dari para tamu. Saban waktu selalu berdatangan. Tentu dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan