Ketika Chairil Anwar Bertemu Tuhan dalam Puisinya

346 kali dibaca

Teman-teman yang saya sayangi, perkenalkan saya Atiqoh ([email protected]). Dalam tulisan singkat ini, saya hendak berbagi kegelisahan dalam menafsirkan puisi-puisi Chairil Anwar. Keterbatasan bacaan dan pengetahuan yang saya miliki bisa menjadi dasar acuan bagi kita untuk saling berdialog; bertukar pikiran. Untuk mengenang seabad Chairil Anwar (26 Juli 1922- 26 Juli 2022), mari kita dengan gembira merayakannya dengan amal jariyah yang Chairil wariskan: Ilmu.

Bertemu Tuhan dalam Puisi

Advertisements

Aku ingin hidup seribu tahun lagi” sepertinya merupakan salah satu doa Chairil Anwar yang tak dikabulkan. Akhir puisi yang melegenda itu menjadi bagian paling menukik dalam setiap pembacaan puisi “Aku”.

Menziarahi Chairil anwar artinya ikut tenggelam dalam puisi-puisinya yang masyhur. Kepulangannya pada usia yang sangat muda dan kegetiran hidup nampaknya menuntun kata-kata menjadi bagian yang paling purna dalam hidup Chairil.

Baca juga:   Menuju STQ Nasional XXVI Sofifi #3: Menggali Spirit, Mengembangkan Potensi

Chairil bukan lagi binatang jalang yang seperti yang disebut-sebut oleh banyak orang. Jika ingin tenggelam dalam puisi-puisi Chairil, ada banyak cinta dan duka yang saling berkelindan memenuhi ruang hidup Chairil. Sebagai lelaki yang terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, tidak sepantasnya Chairil menghidupi hidupnya dengan kemiskinan. Namun siapa sangka melalui kegetiran itu, Chairil menemukan hidupnya, bahkan setelah kematiannya.

Pada 1942, puisi Chairil dimuat untuk pertama kalinya dengan judul Nisan. Itu setelah 20 sajak mengalami penolakan karena dianggap tidak layak berdasarkan pertimbangan kantor pusat kebudayaan Jepang yang kala itu diketuai oleh Sanusi Pane dan komite sastra yang diketuai oleh HB Jassin. Karya-karya Chairil dianggap sangat individualis dan tidak sesuai dengan semangat kebangunan Asia Timur Raya. Namun, ke-20 puisi tersebut didokumentasikan dengan baik oleh HB Jassin, karene ia sadar bahwa karya Chairil bukanlah karya yang bisa dipandang sebelah mata.

Baca juga:   Mengapa Radikalisme Ditolak di Indonesia?

Sebagai salah satu pelopor angakatan Pujangga Baru, Chairil mendobrak tatanan Bahasa Indonesia yang saat itu masih sangat berumur muda. Chairil benar-benar menampakkan aspek kelisanan dalam setiap kata yang ia rangkai menajadi sebuah karya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan