duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Kertas Lusuh Sastra Hemi

Kutitipkan motorku di teras rumah seorang warga tiga rumah sebelah barat surau pinggiran kebun tebu. Sejurus kemudian aku telah dihadapkan pada jalan setapak yang kanan-kirinya dikelilingi rimbun tanaman tebu. Sesekali daun-daun tanaman penghasil gula yang menjuntai ke jalan itu menyentuh lenganku, membuat rasa gatal mendera kulit lengan tanganku.

Baca Juga:   Wejangan Bapak

Terik matahari yang sepenggalah naik membuat suasana perkebunan semakin gerah. Kubuka kerah bajuku dan langkah kakiku terus berayun menelusuri jalan tikus yang entah akan seberapa jauh kulalui nanti. Terlintas di benakku membayangkan murid-muridku menyusuri jalanan seperti ini. Masih pantaskah aku menyalahkan mereka datang telat ke sekolah?

Advertisements
Cak Tarno

Jauh hari sebelum aku datang ke tempat ini, ayah ibuku lebih dulu menanyai kesanggupanku mengabdi di tempat-tempat yang sulit. Tinggal di tempat terpencil dengan akses kebutuhan hidup yang serba terbatas pasti akan sulit bagiku yang semenjak kecil tinggal di kota dengan segala kemewahannya. Tapi keputusanku untuk mengambil kuliah pendidikan telah kupikirkan matang-matang, termasuk kesiapan mentalku akan mengabdi di tempat seperti ini. Bukan saja medan yang sulit, iklim belajar di sekolah yang sangat tidak kondusif ditambah pandemi berkepanjangan ini nyaris memupus semua naluri dedikasi mendidikku.

Baca Juga:   Sang Muazin Turun Gunung

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan