Karomah Mbah Kholil (3): Mencari Cincin dalam Septictank

Membincang karomah Mbah Kholil seakan tidak ada habisnya. Ada berbagai kisah di luar kelogisan normal yang hanya dapat dicerna oleh akal orang-orang tertentu. Tentu saja kisah ini menambah deretan karomah (kejadian luar biasa pada orang-orang khusus) dari Mbah Kholil.

Adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesai, Nahdlatul Ulama (NU). Kiai Hasyim pernah berguru atau nyantri kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Sebagai seorang santri, tentu saja Kiai Hasyim begitu patuh dan taat kepada Mbah Kholil. Setiap wajengan selalu didengar dan dipatuhi. Tidak pernah terbersit di dalam hati Hasyim muda untuk melanggar tata aturan yang dibuat oleh Mbah Kholil.

Advertisements
Cak Tarno

Suatu saat Hasyim muda disuruh Mbah Kholil untuk memanjat sebatang pohon bambu. Tanpa pikir panjang, Hasyim muda pun mengikuti perintah gurunya. Sementara Mbah Kholil mengawasi dari bawah. Beliau mengisyaratkan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk terus memanjat setinggi mungkin.

Baca Juga:   Kiai Nur Hadi, Guru yang (Terus) Hidup

Anehnya, setelah sampai di puncak batang bambu, Mbah Kholil memerintahkan Kiai Hasyim untuk meloncat. Dengan kepatuhan yang luar biasa, tanpa pikir panjang, Kiai Hasyim Asy’ari pun meloncat sesuai dengan perintah Mbah Kholil. Dan ternyata Kiai Hasyim Asy’ari selamat dan tidak mengalami cedera dan sakit sedikitpun. Itulah karomah Mbah Kholil. Beliau hanya ingin menguji kesabaran dan kepatuhan muridnya.

Kiai Hasyim Asy’ari adalah murid yang sangat patuh kepada Mbah Kholil. Apapun yang diperintahkan oleh Syaikhona Kholil akan dilakukan dengan sebaik-baiknya. Di pondok Bangkalan ini, Kiai Hasyim Asy’ari disuruh mengurus hewan ternak. Sapi dan kambing adalah binatang peliharaan yang harus diurus, dipelihara, dan dicarikan makan. Membersihkan kandang setiap hari dilakukan oleh Kiai Hasyim tanpa adanya keluhan sama sekali. Beliau melakukan itu semata ingin mengabdi kepada guru, Mbah Kholil.

Baca Juga:   Kisah Sang Blawong: Ngaji di Tengah Padang Pasir

Suatu waktu Mbah Kholil kehilangan cincin di kamar mandi. Cincin itu termasuk kesayangan Mbah Kholil, sehingga Beliau merasa gusar atas kejadian tersebut. Mendengar hal itu, Kiai Hasyim Asy’ari memohon izin untuk mencarinya di dalam septictank. Setelah mendapat izin dari Mbah Kholil, Kiai Hasyim Asy’ari pun masuk ke dalam wadah kotoran manusia itu. Tanpa rasa jijik dan hanya karena ngalap berkah dari Mbah Kholil. Setelah semua kotoran dikeluarkan, kemudian cincin tersebut diketemukan. Kemudian, oleh Kiai Hasyim Asy’ari cincin itu dihaturkan kepada Mbah Kholil. Maka seketika itu juga, ungkapan doa Mbah Kholil mengalir bagai aliran darah di sekujur tubuh.

Halaman: 1 2 Show All

3 Replies to “Karomah Mbah Kholil (3): Mencari Cincin dalam Septictank”

Tinggalkan Balasan