Jihad Santri di Era Digital

379 kali dibaca

Perjuangan meraih kemerdekaan bukanlah hal yang mudah untuk menggapainya. Segenap elemen bersatu padu meraih kemerdekaan itu dari penjajah termasuk peran dari kaum santri. Jihad (perjuangan) santri bukan hanya disitu juga mengisi kemerdekaan pasca kemerdekaan dan mempertahankan keutuhan NKRI juga lebih berat dari itu. Di silah peran dan kontribusi dalam jihadnya demi negara dan bangsa ini dituntut untuk mewarnai dan mengisinya.

Santri telah mampu mewarnai berbagai dinamika kemajuan bangsa dengan mahakarya dan berbagai kontribusi aktif di dalamnya. Namun seiring dengan perkembangan zaman, dinamika kehidupan berbangsa kian mengalami perubahan, salah satunya disebabkan cepatnya arus informasi melalui berbagai macam media yang berbasis kemutakhiran teknologi. Begitupun dengan fenomena santri hari ini yang juga tidak terlepas dari pengaruh media dan informasi yang turut memengaruhi pola pikir dan tingkah laku santri.

Advertisements

Perilaku-perilaku seperti cara berpakaian, musik favorit, kisah asmara, sampai kepada way of life santri mengalami berbagai macam perubahan. Perubahan ini tentu dapat bernilai negatif maupun positif tergantung bagaimana santri dapat memfilter dampak yang dapat terjadi serta keteguhannya untuk tidak meninggalkan identitasnya sebagai santri.

Waktu terus berubah dan berotasi, keberadaan santri hari ini, atau yang dikenal dengan sebutan  santri zaman now atau santri millenial, adalah bagian dari generasi millenial yang tentunya tidak terlepas dari karakteristik generasi millenial itu sendiri. Menurut Hassanuddin Ali, dalam bukunya yang berjudul Milenial Nusantara, yang dimaksud generasi millenial adalah generasi yang lahir pada tahun 1981-2000, di mana millenial adalah istilah cohort.

Dalam demografi, terdapat empat cohort besar yaitu Baby bommer, Gen-X, Gen-Y (generasi millenial), dan Gen-Z. Lebih lanjut lagi, Hassanuddin menerangkan bahwa setidaknya ada tiga karakteristik dasar generasi millenial, yaitu confidence (percaya diri), creative (kaya akan ide dan gagasan), dan connected (pandai bersosialisasi dalam berbagai komunitas). Karakteristik ini juga yang tentu dimiliki juga oleh santri zaman now sebagai bagian dari generasi millenial.

Di era disrupsi atau yang disebut dengan era digital, era industri 4.0 para santri sudah seyogjanya lebih pandai beradaptasi (life is the continous adjustment). Kaum santri umumnya distigmatisasi sebagai “kaum sarungan, ahli zikir dan tirakat”. Biarkan stigma tersebut tetap melekat dalam keseharian gaya hidup kaum santri. Karena itu memang cermin insan yang taat beragama, mencintai Allah dan kehati-hatian terhadap syari’ah menutup aurat.

“Bersarung” tidak identik dengan keterbelakangan peradaban. Yang harus dilibas adalah “kesan” bahwa kaum santri miskin pengetahuan umum, buta teknologi, “taqlid buta” dan rentan menjadi korban “pihak-pihak yang Berkepentingan” khususnya dalam misi ekonomi, politik dan budaya.

Era digital harus difahami sebagai tantangan normatif para santri. Mau tidak mau para santri harus segera dan mendesak dalam menyikapinya. Sebagai “assets” NKRI yang memiliki nilai bersejarah dalam proses dan pasca kemerdekan NKRI, para santri harus terdepan menjadi gerbang NKRI agar tidak kehilangan generasi.

Idealnya para santri millenial harus memperhatikan khazanah disiplin ilmu dengan tetap mengedepankan ilmu agama sebagai pengarah “akal dan hati” dalam interaksi kehidupan dengan berbagai pihak dan di segala bidang. Menurut Fauzan Muttaqien (2019), santri  sebagai aset bangsa, beberapa hal yang harus diperhatikan para santri untuk menghadapi era disrupsi, yaitu,pertama, jangan pernah berhenti berinovasi, khususnya dalam menyikapi era ketidakpastian di bidang ekonomi, sosial, budaya dengan tetap mempertahankan jati diri sebagai seorang muslim dan rakyat NKRI.

Kedua, pandai dalam menerjemahkan regulasi; perkembangan teknologi membuat setiap insan lebih mudah mencari pilihan hidup. Oleh karena itu, tetaplah tunduk pada petuah-petuah alim ulama sebagai waratsatul anbiya. Merekalah sebagai panutan utama dalam menyikapi segala problematika kehidupan di berbagai bidang. Jangan membuat keputusan-keputusan yang membuat degradasi moral, dan salah persepsi tentang ajaran-ajaran agama, sehingga menimbulkan sentimen negatif eksternalitas terhadap ajaran agama Islam.

Ketiga, manfaatkan teknologi di jalur yang tepat; setiap insan memiliki hak untuk memilih keputusan hidup yang menawarkan sesuatu dengan berbagai kelebihan. Oleh karena itu, sudah seharusnya para santri memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas diri dan memfilter keberagaman informasi, sehingga tidak terjebak oleh “keputusan hidup” yang seolah-olah baik, namun salah menurut ajaran agama islam.

Keempat, jangan pernah merasa puas; setiap santri di era millennial harus mengembangkan performa nya, baik secara verbal, fisik, maupun psikis, agar dapat bersaing dengan SDM kalangan lainnya. Karena itu kewajiban para santri adalah selalu menumbuhkan kualitas keilmuan, meningkatkan profesionalitas, menjaga Integritas, meningkakan Iman, Islam dan Ikhsan dimanapun berada sehingga tidak rentan terjebak dalam perbuatan syirik dan tercela.

Kelima, ciptakan hubungan harmonis dalam “lintas keberagaman”; Pada era disrupsi ini, penting bagi para santri untuk berinteraksi secara terbuka dengan berbagai pihak untuk mencapai “poin-poin” yang berkeadilan dan kemakmurann bersama. Menjauhkan dari sifat egosentris dan agnostisme. Dengan demikian para sanntri akan menjadi sosok yang siap memberi solusi secara arif dan cekatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana prinsip-prinsip 4 pilar kebangsaan.

Kita menyadari bahwa dalam mengurus negara ataupun perusahaan selain dibutuhkan moral yang baik, juga dibutuhkan kemampuan akademik sesuai dengan kompetensi yang di butuhkan sebagai seorang pemimpin untuk menjalankan roda organisasi. Fungsi manajemen bisa dijalankan tidak hanya dengan sistem dan prosedur yang baik, namun dibutuhkan moral yang baik. Santri dibentuk dalam satu budaya sederhana dan mumpuni dalam hal spiritualitas. Walaupun mereka datang dari strata sosial yang berbeda-beda, namun ketika mereka memasuki dunia pesantren semua diperlakukan sama .

Agama mengajarkan bahwa derajat manusia di sisi Tuhan tidak diukur dari status sosial seseorang. Budaya yang dibangun oleh dayah atau pesantren sangat baik dalam membentuk karakter santri dalam memahami hidup, mempermudah sanri cepat menyesuaikan diri pada lingkungan baru di mana mereka berada

Era disrupsi lebih berkiblat kepada kehidupan barat, sangat bertolak belakang dengan kehidupan di kalangan pesantren yang fokus garapannya di bidang spiritual, itulah menjadi tugas dan tantangan santri dalam menjalani kehidupan beragama berbangsa dan bernegara. Tantangan dalam bernegara mulai ramai di dengungkan mengenai paham-paham yang  bercorak islam-radikalisme dengan membawa visi untuk mengubah dasar negara menjadi ideologi yang murni dari Islam. Dasar negara yang sudah menjadi kesepakatan semua warga negara (Pancasila) dianggapnya tidak relevan lagi dibuat sebagai landasan bernegara, apalagi mereka (paham radikalisme) menganggap sudah waktunya negara yang mayoritas menganut agama islam, maka seyogyanya harus menggunakan Islam sebagai landasan bernegara.

Menjadi santri di era milineal memang berat. Kalau santri zaman old hanya berbekal takdhim kepada kiainya, mereka sudah bisa menjadi “orang”. Mestinya kita berkaca kepada santri zaman old. Akhlak adalah hal paling utama dalam segala hal. Setelah itu barulah berilmu dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Maka, sebagai santri tidak hanya memberikan nasihat kepada orang lain dan tidak menjalankannya. Nasihat itulah yang mesti diterapkan terlebih dahulu kepada diri pribadi. Inilah sebuah tantangan bagi santri.

Beranjak dari paparan di atas, momentum Hari Santri nasional hendaknya santri milenial harus menjadi sebagai sosok generasi penerus bangsa yang berjiwa Qur’ani, memiliki andil yang besar dalam membawa perubahan dan pelopor dalam segala lini kehidupan terutama perubahan mental, spritual, dan intelektual, bukan hanya di kalangan dayah atau pesantren, tapi juga masyarakat umumnya.  Kalau tidak sekarang, kapan lagi santri berbuat demi agama dan negara ini?

Multi-Page

Tinggalkan Balasan