Jampi-jampi Mak Tini

332 kali dibaca

Sungguh, bila ada aturan aneh dalam satu kurung desa, mungkin desa ini salah satunya. Warga sekitar memang tahu betul peraturan dari leluhur terdahulu yang turun temurun masih diwariskan. Semenjak ada lelaki yang berani menantang peraturan tersebut, gaduh desa terkena bencana secara beruntun tak terhindarkan. Hari ini banjir, kemarin tanah longsor, dan mungkin beberapa hari esok, desa tersebut hancur hilang karena bencana.

Beberapa tetua desa bermusyawarah untuk mencari cara bagaimana menghentikan bencana ini. Bahkan lelaki yang melanggar aturan itu dipaksa datang untuk ikut bercakap dalam rapat di ruang balai desa. Lalu mereka menyuruh pergi lelaki tersebut keluar desa saat itu juga.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Sudah dibilang, kan, kalau menyembelih hewan kurban, parangmu harus didoakan dulu oleh Mak Tini!” kata Heru sebagai lurah desa dengan nada kesal.

“Sekarang, bagaimana nasib desa kita?” Bahrudin bertanya dalam ruang cakap tersebut.

“Ya, kita usir saja Rahman ini keluar desa!” sahut Mbah Darmo sebagai salah satu sesepuh desa.

Rahman sejak awal pergunjingan sudah diam. Tidak ada satu kata patah pun yang keluar dari mulutnya. Rasa sesal pada dirinya sudah menumpuk. Bahkan timbul pertanyaan pada dirinya, apakah ini akibat ulah perbuatannya. Atau ini hanya kebetulan saja.

Peraturan desa tersebut memang juga sudah tertulis jelas di balai desa. Bila setiap tahun pada hari kurban, setiap parang yang digunakan untuk menyembelih hewan kurban harus diberi doa oleh Mak Tini agar tidak terjadi bencana.

Tapi Rahman menghiraukan aturan tersebut. Ia melakukan penyembelihan hewan kurban dengan parang tanpa terlebih dulu diberi doa atau jampi-jampi oleh Mak Tini. Aneh memang bila dikatakan, sebelum-sebelumnya Rahman sebagai tukang jagal tak pernah melanggar aturan tersebut, dan untuk tahun ini ia baru saja melanggarnya. Seketika itu pula, esok hari bencana itu muncul satu per satu.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan