Islam Nusantara

170 kali dibaca

Islam telah berkembang menjadi agama global yang persebarannya terus meluas ke berbagai belahan dunia. Islam telah menjadi agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia setelah Kristen. Pada 2019, diperkirakan populasi muslim di dunia telah mencapai 1,9 miliar jiwa.

Di beberapa negara di dunia, Islam juga telah menjadi agama mayoritas yang dianut penduduknya, seperti di Indonesia. Sekitar 85 persen penduduk Indonesia menganut agama Islam. Tentang masuknya Islam ke Indonesia, sejarah mencatat terjadi dengan berbagai cara. Ada yang melalui dari jalur perdagangan yang dilakukan oleh perantau Bangsa Arab. Ada yang melalui jalur pernikahan antara Bangsa Arab dengan pribumi Nusantara. Ada yang dari jalur kajian yang dilakukan oleh alim ulama atau para ilmuan muslim.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dari sana, lalu Islam dapat berkembang pesat di seluruh wilayah Nusantara karena ajaran yang diajarkan di dalam agama Islam memberikan ketentraman dan tidak memiliki unsur kejelekan sama sekali pada ajarannya.

Di Nusantara, ketika Islam mulai masuk, tiap daerah memiliki budaya dan ciri khas yang berbeda-berbeda. Masing-masing daerah memiliki cara tersendiri untuk menumbuhkan nilai kebaikan kepada masyarakatnya, terutama pada agama yang harus dijadikan sebagai fondasi utama dalam kehidupan manusia yang beragama. Karena itu, penyebaran Islam ke wilayah Nusantara disesuaikan dengan karakter dan ciri khas masyarakatnya agar mudah diterima. Salah satu contoh adalah penyebaran agama Islam yang dilakukan Wali Songo.

Wali Songo menyampaikan ajaran Islam dengan mudah dan dapat dipahami oleh masyarakat, terutama di Pulau Jawa, dengan sepenuh hati karena menggunakan metode dan media yang sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat.

Misalnya, Sunan Kalijaga mendakwahkan Islam dengan memanfaatkan wayang. Sebab, di zaman itu masyarakat Jawa lebih senang mendengerkan dan menyaksikan pertunjukan wayang daripada berkumpul dalam suatu majelis pengajian. Melalui pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga memasukkan nilai-nilai Islam. Akhirnya, masyarakat yang menyaksikan pertunjukan dapat menikmati dan menghayati nilai-nilai Islam. Dengan itu, Sunan Kalijaga memanfaatkan wayang tersebut untuk berdakwah kepada masyarakat Jawa ketika itu dengan mengganti subtansi pada pertunjukan wayang tersebut dengan pelajaran agama, seperti akhlak, meyakini bahwa Allah Tuhan yang Esa, dan lain lain.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan