Hoaks Membunuh Kita (1): Yang Cerdas Tak Menelan Hoaks

Hoaks bukanlah istilah yang muncul belakangan ini, akan tetapi sudah ada sejak tahun 1808. Ia berasal dari bahasa Inggris, hoax, yang artinya berita bohong atau palsu. Banyak orang yang menganggap bahwa hoaks berasal dari kata “hocus”, diambil dari kata “hocus pocus” yang merupakan kata yang sering diungkapkan oleh para pesulap (sama halnya dengan sim salabim).

Karen itu, fenomena hoaks bukanlah hal yang bersifat baru, melainkan sudah turun temurun sejak zaman dahulu. Tokoh hoaks pertama adalah iblis yang mencoba membodohi Adam. Akan tetapi, Adam merupakan orang cerdas yang tidak termakan hoaks dari iblis —akhirnya Hawa yang menajdi sasaran empuk hoaks si iblis laknatullah tersebut. Akibatnya, terjadilah pengusiran dari surga ke dunia; murka Allah diperoleh mereka berdua sampai anak cucu mereka. Akan tetapi masih beruntung mendapat ampunan dari Allah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Hoaks kembali ramai pada periode periwayatan hadis generasi Tabi’in. Hadis merupakan segala hal yang berkaitan dengan Nabi, termasuk perkataan, tingkah laku, sampai tindak tanduk. Dari sini muncul berbagai kerumitan untuk menentukan validitas kebenaran hadis yang dibawa secara estafet oleh para rijal al-hadits (para perawi hadis) sampai kepada kita. Karena, setiap perawi bertanggung jawab terhadap validitas dan kualitas hadis yang mereka riwayatkan. Dan jika yang membawa hadis tersmasuk golongan bidah, maka status hadis yang dibawanya bersifat mawdlu’ atau hoaks. Artinya, hoaks terjadi juga dengan mengklaim nama Nabi Muhammad.

Baca Juga:   Kurban dan Implikasi Sosialnya

Akhir-akhir ini muncul isu politik yang sangat meresahkan warga masyarakat. Mulai kasus Saracen, hoaks tokoh presiden, tokoh PBNU, ulama, dan sebagainya. Para oknum penyebar berita hoaks berkoalisi dengan beberapa oknum wakil rakyat guna menyebarkan kebohongan demi hasrat politiknya, yaitu menghancurkan citra dan karakter lawan politiknya.

Klarifikasi adalah jalan satu-satunya untuk membendung arus tersebarnya hoaks. Dan mengedepankan saling percaya, meminimalisasi saling curiga, serta sikap waspada sangat dibutuhkan saat klarifikasi. Karena lebih sulit mengklarifikasi suatu berita daripada menyebarkan hoaks. Satu kali tombol enter ditekan, ribuan hoaks bisa tersebar, akan tetapi butuh berhari-hari untuk mengklarifikasinya.

Baca Juga:   Sangkolan

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan