Hakikat Haji

43 kali dibaca

Setelah dua tahun gagal diberangkatkan karena berbagai alasan, termasuk pandemi, untuk tahun ini Kementerian Agama (Kemenag) boleh lega. Sebab agenda tahunan seperti pemberangkatan jemaah haji sudah bisa dilaksanakan. Dengan total keseluruhan 100.051 jemaah, yang terdiri atas 92.825 kuota haji reguler dan 7.226 jemaah kuota haji khusus (Jawa Pos, 13/06/22), sebanyak 39.914 jemaah haji telah diberangkatkan ke tanah suci. Sebagian jemaah sudah sampai dengan selamat.

Tetapi dalam pemantauannya, saya sedikit terkejut ketika ada sebuah berita tentang pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Dalam berita tersebut, Kemenag mengimbau para jemaah haji agar tidak memakai atribut politik selama berhaji dan tidak melakukan kegiatan politik dalam bentuk apa pun. Laporan ini ditulis secara langsung dari Mekkah oleh Naufal Widi AR (Jawa Pos/18/06/22).

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sampai di sini saya dihantui pertanyaan-pertanyaan besar di balik itu semua; apa hubungannya praktik haji dengan politik, sehingga Kemenag mengimbaunya secara tegas? Apakah dalam praktiknya, haji mempunyai kaitan erat dengan politik? Saya rasa tidak. Lalu, apakah memang dalam serangkaian ibadah haji ini terdapat embel-embel yang mengarah terhadap kepentingan politik? Bisa juga benar, bisa juga salah.

Saya tidak bisa menjawab secara pasti pertanyaan ketiga. Tetapi, saya akan berusaha menjawab dengan menampilkan kajian yang dilakukan seorang psikolog sosial, Gordon W Allport (1966), bahwa tidak selamanya orang yang kelihatan religius benar-benar memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Bahkan tidak jarang, agama hanya dijadikan alat legitimasi untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.

Nah, yang perlu digarisbawahi dari pernyataan Allport adalah tentang bagaimana cara dan orientasi beragama, bukan pada entitas agama itu sendiri. Maka dari itu, Allport menampilkan dua bentuk orientasi religius (beragama), yaitu intrinsik dan ekstrinsik.

Untuk yang pertama (intrinsik), lebih tertuju pada objektivitas agama; tentang nilai yang terkandung di dalamnya, tujuan murni karena agama, lahir berdasarkan nilai-nilai agama dan tidak mengharapkan apa-apa selain menikmati agama yang dianutnya. Dalam bahasa yang mudah, intrinsik dari agama, oleh agama, dan untuk agama semata.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan