Gus Jaka dan Mukidi

Awan bergumpal-gumpal di langit desa Mentaraman. Hamparan biru dengan luas tak terukur yang menjadi atap bumi itu berselubung gelap. Di balik kegelapan awan sang mentari sedang bermuram durja. Tak berapa lama kemudian turun gerimis. Dalam hitungan detik, rintik hujan itu kemudian berubah menjadi hujan lebat. Bau tanah basah menyeruak. Ladang-ladang tandus yang retak oleh keringnya kemarau pun perlahan mengatup. Penantian para petani akan turunnya hujan telah terbayar lunas hari ini. Orang-orang pinggiran penghuni desa di tepi laut selatan itu pun bersorak- sorai.

Ketika orang-orang itu sedang merayakan kebahagiaan, seorang bocah dengan wajah bekunya sedang mengamati kucuran air hujan yang turun di teras rumahnya. Walaupun kedua bola matanya menatap tetesan air hujan itu namun kentara sekali bukan itu yang sedang dipikirkannya. Dia sedang meratapi betapa malang hidupnya. Wajahnya pias. Tak ada rona kebahagiaan sedikit pun. Sesekali ia mengamati anak-anak kecil bertelanjang dada yang berlari ke sana-ke mari di bawah derasnya guyuran air hujan. Namun keceriaan kedua anak kecil itu harus terhenti ketika ibu mereka datang memarahi.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Rumah Gus Jaka, bocah pemilik wajah murung itu, sedang ramai. Sanak keluarganya sedang berkumpul. Akan tetapi, untuk hari-hari selanjutnya rumah berdinding anyaman bambu itu akan mendulang sepi. Gus Jaka akan menghuninya seorang diri. Bapaknya telah wafat seminggu yang lalu. Dan sore ini bertepatan dengan acara kenduri tujuh harinya. Bocah kelas enam SD itu kini menjadi yatim piatu. Ibunya telah meninggal beberapa jam setelah melahirkan dirinya, dua belas tahun yang lalu. Entah dia akan hidup dengan siapa setelah hari-hari ini berlalu. Kehidupan suram membayangi masa depannya.

Tinggalkan Balasan