Guru Sekumpul, Perhiasan Ahli Ibadah

Minggu 1 Maret lalu, jalanan Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mendadak lengang. Rumah-rumah makan, toko-toko kelontong atau kios-kios di pasar, bahkan pasar swalayan banyak yang tutup. Karyawan mereka diliburkan. Tak banyak warga yang terlihat melakukan aktivitas baik di pusat-pusat perdagangan maupun di jalan-jalan.

Rupanya, hampir semua warga kota ingin memberi hormat dan juga mengikuti acara haul ke-15 KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lebih popular dengan sebutan Abah Guru Sekumpul. Terhitung sudah 15 tahun Abah Guru Sekumpul ini berpulang, namun sosoknya terasa masih berada di tengah-tengah warga Banjarmasin khususnya, bahkan oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Puluhan ribu orang dari berbagai penjuru Tanah Air datang berduyun-duyun untuk mengikuti haul Abah Guru Sekumpul. Menghormat dan ngalap berkah pada tokoh yang meninggal pada 10 Agustus 2005.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ia diingat sebagai orang yang sangat alim, bersuara merdu, dan juga berparas rupawan. Ia menguasai berbagai bidang ilmu agama dan telah menelurkan banyak kitab berbahasa Arab. Ia pengajar dan pendidik par excelence bagi santri dan jemaahnya. Ia dikenang sebagai sosok yang murah hati dan memiliki banyak karomah. Banyak orang menyebut, ia memiliki banyak tanda kewalian.

Baca Juga:   Benarkah Muhammad Pernah Sesat?

Tentang Mimpi Cucu Nabi

Abah Guru Sekumpul dilahirkan di Tunggul Irang, Martapura, Kalimantan Selatan pada 11 Februari 1942. Dari silsilah keluarga, ia adalah keturunan ke-8 dari ulama besar Kalimantan, Syaikh Maulana Muhammad bin Arsyad al-Banjari, Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) Kesultanan Banjar pada abad ke-17. Syaikh al-Banjari adalah pengarang Sabil al-Muhtadin, kitab fikih mazhab Syafi’i berbahasa Melayu.

Baca Juga:   Mengenang Abuya Uci yang Pernah Nyantri di 32 Pesantren

Sesungguhnya, nama kecil Abah Guru Sekumpul adalah Ahmad Qusyairi. Setelah lahir, keluarganya pindah ke Kampung Keraton, Martapura. Qusyairi kecil ini dibesarkan di lingkungan keluarga yang secara ekonomi tergolong miskin. Namun, keluarganya selalu berusaha keras untuk memberikan perlindungan dan pendidikan yang maksimal. Qusyairi kecil ini selalu didampingi oleh ayahnya, Abdul Ghani, dan neneknya, Salbiyah, untuk belajar al-Quran dan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

Tinggalkan Balasan