Guru dan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

347 kali dibaca

Guru bahasa Indonesia saya berkata, “Pintar itu relatif, pengetahuan itu wajib”. Ini merupakan jawaban dari pertanyaan saya tentang apa yang dicita-citakan oleh seorang guru

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) 1993:288, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaann dan mata pencahariannya adalah mengajar. Menurut saya, definisi tersebut kurang relevan dengan tujuan pendidikan nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Advertisements

Dari perkataan guru saya tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa itu berarti belajar saja itu tidak cukup, jika tidak disertai dengan berpikir. Teringat perkataan filsuf besar Prancis Rene Descartes, “Aku berpikir, maka aku ada”. Ini mirip dengan ilmu logika dalam Islam (manthiq), yang dikatakan bahwa al insan huwa hayawanun nathiq, yang berarti bahwa manusia adalah hewan yang berpikir (animal educabili).

Baca juga:   Daqaiqul Akhbar, Kitab Mistik yang Mencerahkan

Sehingga, dapat dikatakan bahwa seseorang dapat dikatakan manusia apabila ia dapat berpikir dengan baik. Seorang penyiar televisi swasta suatu kali mewawancarai seorang suku Baduy, yang diterjemahkan dari bahasa Sunda, jawabannya sebagai berikut: “Apa untungnya sekolah? Apabila anak sekolah, nanti jadi pintar. Orang pintar cenderung membodohi orang. Jadi, untuk apa sekolah kalau nantinya menjadi orang yang membodohi orang lain?”

Pendapat tersebut menyadarkan kita akan bahwa pintar saja tidak cukup untuk dijadikan tujuan dalam pendidikan.

Baca juga:   Aku dan Pesantrenku (6): Memukul Setan Tidur

See Ching Mey dan Lee Siew Siew melalui Pusat Pengajian Ilmu Pendidikan di Universiti Sains Malaysia, menemukan 43.41% daripada sampel pelajar mengalami kemurungan klinikal yang berpotensi melakukan usaha bunuh diri. Data ini menunjukkan bahwa pendidikan cenderung hanya mengejar prestasi demi persiapan masa depan dan melupakan kemanusiaan manusianya sendiri.

Sirnanya kemanusiaan ditunjukkan melalui usaha manusia untuk bunuh diri. Manusia berusaha bunuh diri karena ia tak mampu lagi melihat kesempurnaan di dalam diri kemanusiaannya. Dan yang mengejutkan, data bunuh diri memperlihatkan bahwa pendidikan gagal membuat manusia menemukan kemanusiaannya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan