Dari “Sadaring Mana Fakta Mana Fiksi”

Tulisan ini bertolak dari diskusi virtual yang diselenggarakan oleh Satupena pada Minggu (15/8/2021). Satupena adalah organisasi para penulis Indonesia. Diskusi ini disebut “Sadaring” yang merupakan perpaduan dari frasa sarasehan daring.

Pada edisi Sadaring Satupena #01 kemarin, tema yang diangkat adalah “Mana Fakta Mana Fiksi, Dulu dan Kini,” dengan menghadirkan tiga nara sumber, masing-masing Salman Aristo (penulis naskah film, produser, sutradara), Hikmat Darmawan (kritikus/kurator film, komikus, dan literatur), serta Deasy Tirayoh (cerpenis, penyair, penulis naskah film).

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tema ini diangkat lantaran fakta dan fiksi adalah dua pokok persoalan literasi yang seringkali dikaburkan oleh berbagai kapentingan, lebih-lebih pada hari-hari ini. Fakta yang difiksikan dapat menjadi sebuah tindakan untuk lebih menemukan makna (benang merah) di dalamnya.

Baca Juga:   Relevansi Pribumisasi Islam Gus Dur

Namun, di arus informasi yang begitu deras, bisa sangat mungkin sebuah fakta menjadi fiktif (bukan fiksi) karena dibangun atas dasar keinginan untuk memfiktifkan fakta. Oleh sebab itu, kita sebagai pembaca harus cerdas dan mempu menyaring informasi sebagai sebuah nilai kebermaknaan.

Dalam Sadaring ini, Hikmat Darmawan membahasakan sebagai, “Kegagalan saat ini adalah menyebarkan opini sebagai fakta atau fiksi (baca: fiktif) dianggap fakta. Kita sering mencampuradukkan keduanya. Kita kehilangan kompas dalam memilah hal ini.”

Di sinilah pentingnya menjadi pembaca yang cerdas. Tidak dibodohi oleh sebuah fakta yang difiktifkan atau fiksi yang disusupi oleh aroma dusta. Tabayyun, adalah salah satu nalar ilmiah untuk terhindar dari racun mematikan sebuah berita.

Baca Juga:   Tradisi Roan dan Pendidikan Karakter Santri

Pembaca Cerdas

Hikmat Darmawan berasumsi bahwa tidak sedikit pembaca, bahkan yang sudah dianggap terpelajar dan berpengalaman sekalipun, tidak dapat membedakan mana fakta dan mana fiksi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, yang di antaranya adalah arus informasi yang begitu deras.

Tinggalkan Balasan