Cerita Empat Sekawan

6,953 kali dibaca

Rijal, Arip, Putri, dan Andik adalah empat sekawan yang membentuk aliansi selama SD. Kini mereka duduk di MA Swasta Fatahillah kelas XI. Selayak mafia Italia, empat kawanan itu telah menemukan bentuk kesamaan “visi-misi” meski minim aksi dan prestasi, meski dengan karakter yang berbeda, dan meski beda uang jajan.

Rijal, si aktivis organisasi pemuda, berharap jatah konsumsi sebagai tujuan utamanya, “aktivis takut lapar”. Arip gamers online yang selalu defeat karena ketika bermain mengandalkan tetring dari temannya. Saat permainan belum sampai selesai, temannya sering  mematikan hot spotnya. Putri sang pesolek, tukang update status pamer dan sambat, penggemar berat drakor. Impiannya setelah lulus ia akan menjadi TKI ke luar negeri, dan anak majikannya bisa kepincut serta meminangnya (impian yang indah). Dan Andik, the woles boy, sifat santuy-nya kelas “wahidnya wahid”. Ia tetap mengaji di langgar Ustadz Umar, meski Iqra jilid 5-nya tidak naik-naik, ia tetap santuy dan woles motion. Ia tetap mengaji (salut!).

Advertisements

Pagi cerahku, matahari bersinar, menggendong tas dipundak, sebagai bentuk kepantasan anak sekolah seperti lirik lagu-lagu yang biasanya diputar dalam wisuda SMP. Rijal, Arip, dan Andik seperti biasa, menjemput Putri. Entah kawanan yang juga selalu kompak dalam nilai di bawah garis menengah KKM, tidak rela jika berangkat tidak lengkap anggotanya. “Puuut… Putri… ayo berangkat, sudah jam 7 kurang 15 menit ini!” seru Rijal.

“Bentaarrr to.…tinggal pakai pelembab dulu,” suara Putri dari dalam, tak lama ia keluar. “Adeehh…gak sabaran banget. Yang penting gak telat, lulus, lulus,” sungut Putri sambil semprot kanan-kiri ketiaknya dengan parfum delapan ribuan, kemudian memasukkannya ke dalam tas bersama kaca kecil, bedak, pelembab, lotion, pembersih muka, yang harganya di bawah sepuluh ribuan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan