Cara Wali Mengambil Hati

Memang rutinan MDSRA malam itu didedikasikan untuk almarhum Alfa Isnaeni. Jadi, nuansa berkabung tetap menjadi spirit anak-anak muda NU untuk mengenang kader terbaik BANSER asal Jawa Timur tersebut.

Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terakhir kepada almarhum, salah seorang kader Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU), Rini Mardiatun Nisa, membacakan puisi berjudul “Selamat Jalan Komandan”. Puisi tersebut diharapkan mampu memberikan energi positif generasi kini agar dapat menghargai jasa pendahulunya serta meneladani jejak perjuangannya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tak lupa di pengujung kegiatan ini, dipersembahkan atraksi para pendekar pencak silat dari Pagar Nusa. Ditampilkanya pencak silat bukan tanpa alasan. Pencak silat merupakan seni bela diri asli dalam negeri.

Baca Juga:   2TAHUN DUNIASANTRI (7): MEMBUKA KESADARAN BARU

Pencak silat dulu menjadi bagian penting tradisi pesantren. KIai zaman dulu, selain alim ilmu fikih, juga mahir menampilkan jurus kanuragan dan kejadugan (ilmu hikmah). Maka, pesantren zaman dulu di samping sebagai tempat menuntut ilmu agama Islam sekaligus merupakan padepokan silat. Kemudian dari pesantren lahirlah tokoh dan pendekar kebanggaan NU, di antaranya pendiri Pagar Nusa, KH Mashum Jauhari (Gus Ma’shum) dan KH Suharbillah.

Wa ba’du. Dakwah merupakan keniscayaan bagi tegaknya izzul islam wal muslimin. Wali songo telah mewariskan metode dakwah yang sangat kontekstual di eranya, tinggal kita mau ittiba dengan mereka atau tidak. Saatnya membentengi kaum muda dengan nilai-nilai dakwah Wali Songo. Di mana pun dan kapan pun, kibarkan Islam yang ramah. Jangan diam, kalau tidak ingin negeri ini terbelah!

Tinggalkan Balasan