duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Angin sengaja membangunkanku dengan menciptakan bising pada kaca jendela yang terbuka. Aku agak kesal bangun sepagi ini; aku ingin menikmati pagi dalam mimpi. Setelah berhasil menutup kaca jendela rapat-rapat, aku hendak kembali tidur. Tapi perutku menjerit dan mengajakku melangkah ke arah dapur. Terpaksa, harus kutunda tidur pagi ini.

Baca Juga:   Ruwaiya

Sebelum sampai ke dapur, kulihat ibu mematung menghadap pekarangan. Ia menyadari langkah kakiku, lantas berbalik ke arahku. Mata ibu menyipit, bibirnya kering dan gemetar. Aku tidak mengerti, mengapa muka ibu sepucat itu. Mungkin ia gugup atau mungkin juga tidak. Kalau memang ibu gugup, barangkali ia gugup pada seekor camar yang tersengguk-sengguk di pundaknya.

Advertisements
Cak Tarno

Aku tak hendak mengatakan, pundak ibu serupa dahan pepohonan. Ia seolah tak merasakan apa pun saat burung itu mulai mematuki kulitnya. Aku heran, tapi ibu tak mengizinkanku untuk berlama-lama keheranan. Ibu menodongkan jari telunjuknya, menyuruhku untuk kembali ke kamar lalu tidur. Kuturuti perintah ibu. Di kamar, begitu lama aku terbaring tanpa memejamkan mata. Aku salah, aku tidak bisa tidur dalam keadaan perut lapar.

Baca Juga:   Ladang Mbah Setu

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan