Burung Camar di Pundak Ibu

Angin sengaja membangunkanku dengan menciptakan bising pada kaca jendela yang terbuka. Aku agak kesal bangun sepagi ini; aku ingin menikmati pagi dalam mimpi. Setelah berhasil menutup kaca jendela rapat-rapat, aku hendak kembali tidur. Tapi perutku menjerit dan mengajakku melangkah ke arah dapur. Terpaksa, harus kutunda tidur pagi ini.

Sebelum sampai ke dapur, kulihat ibu mematung menghadap pekarangan. Ia menyadari langkah kakiku, lantas berbalik ke arahku. Mata ibu menyipit, bibirnya kering dan gemetar. Aku tidak mengerti, mengapa muka ibu sepucat itu. Mungkin ia gugup atau mungkin juga tidak. Kalau memang ibu gugup, barangkali ia gugup pada seekor camar yang tersengguk-sengguk di pundaknya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Aku tak hendak mengatakan, pundak ibu serupa dahan pepohonan. Ia seolah tak merasakan apa pun saat burung itu mulai mematuki kulitnya. Aku heran, tapi ibu tak mengizinkanku untuk berlama-lama keheranan. Ibu menodongkan jari telunjuknya, menyuruhku untuk kembali ke kamar lalu tidur. Kuturuti perintah ibu. Di kamar, begitu lama aku terbaring tanpa memejamkan mata. Aku salah, aku tidak bisa tidur dalam keadaan perut lapar.

Baca Juga:   Jeruk Surga

Lama memikirkan ibu dan makanan, akhirnya aku memutuskan untuk kembali bangun. Persetan dengan perintah ibu. Perutku keroncongan, dan ia menagih beberapa makanan masakan ibu. Pelan-pelan kuberjalan, berharap ibu tak melihatku. Tapi lagi-lagi aku salah, bukan ibu yang tak melihatku, melainkan aku yang tak melihat ibu. Baru saja aku terbaring beberapa menit, ibu sudah menghilang.

Baca Juga:   Sekaleng Biskuit Lebaran

***

Ini salahku yang selalu bertanya perihal burung camar pada bapak. Tidak, ini salah Bu Guru yang telah memberikan tugas sulit perihal burung camar padaku. Ia memberiku waktu satu minggu padaku untuk tahu seluk-beluk perihal burung camar. Aku tak pernah melihat burung itu, sebab itulah kubantai bapak dengan pertanyaan-pertanyaan tentang burung.

Tinggalkan Balasan