Bunglon dan Pohon Wali

620 kali dibaca

Bukan karena kepadatan lalu lintas kendaraan yang membuat para sopir enggan memberi ruang seorang kakek yang tampak grogi hendak menyeberang jalan raya itu. Bukan pula karena ketidakpedulian orang-orang yang berjalan di sekitar situ untuk membantu si kakek —karena mereka kelihatan lebih memperhatikan benda di tangan ketimbang keadaan sekitar.

Bukan itu yang menjadikannya terpana; semua itu urusan manusia, bukan urusannya. Terlebih terkait dengan manusia, ia punya pengalaman yang cukup menjengkelkan. Pada satu kejadian, seseorang menangkapnya, menaruhnya di sebuah kotak kaca yang beralas motif abstrak dengan sapuan warna amat banyak—menjadikannya sebentar-sebentar kelimpungan karena harus mengganti sebagian warna kulitnya sesuai warna alas itu.

Advertisements

Sementara, orang itu tampak senang memotretinya dengan gawainya. Untunglah, itu tidak berlangsung lama, entah karena apa, ujuk-ujuk orang itu melepaskannya.

Baca juga:   Bapak

Nah, yang menjadikannya terpana di ujung pagi ini adalah sebatang pohon mahoni yang berdiri di hadapannya itu. Sementara pohon-pohon mahoni yang lain—di kiri-kanan jalan raya itu—tampak subur makmur ijo royo-royo, pohon itu tampak mengenaskan: kering kerontang. Apakah sudah tidak ada kepedulian di antara sesama pohon? Demikian benaknya bertanya-tanya sembari cepat-cepat merangkak, menghindari injakan kaki seseorang yang berjalan di dekatnya.

Si pohon yang ujuk-ujuk mengerti apa yang tengah dirisaukan oleh bunglon itu, tidak dapat menahan tawa. Ini menjadikan bunglon itu sewot, lalu berkata, “Sampean senang ya, melihat saya hampir-hampir gepeng?”

Baca juga:   Dua Manusia Langka

“Bukan karena itu,” jawab si pohon sembari berusaha menghentikan tawanya, “melainkan apa yang tadi sampean pikirkan tentang kami, utamanya tentang saya…”

“Lho, sampean bisa mengerti pikiran saya?”

Ndilallah, ujuk-ujuk saya tahu.”

“Apakah sampean pohon wali?”

“Saya tidak tahu. Bukankah hanya wali yang dapat mengetahui wali? Lagi pula saya hanya sebatang pohon mahoni. Hanya, sekarang saya jadi ingin memberitahu sampean tentang keadaan saya ini, agar sampean tidak berpikir yang bukan-bukan tentang kami…”

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan