Bulan Purnama untuk Kiai Suaib

Selesai salat maghrib, kami duduk bersila memangku kitab kami masing-masing. Dalam pandangan Kiai Suaib, ia tengah mencari salah satu santrinya yang kebetulan sudah dua hari tidak mengikuti pengajian.

Lalu aku dipanggil. Kiai Suaib menanyakan mengapa Rustam tidak ikut pengajian.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Rustam sedang sakit, Yai,” jawabku sambil menunduk.

“Sakit apa?” tanyanya.

“Rustam terjangkit virus, Yai,” timpalku.

“Sudah diberi obat? Sudah diberi makan?” tanyanya.

Aku menoleh kepada santri-santri yang lain. Aku kebingungan, bagaimana caraku menjawab pertanyaan Kiai Suaib. Secara jujur, kami tidak berani mendekati Rustam karena virus keparat itu.

“Saya tidak tahu, Yai. Mungkin ada santri lain yang berani merawat Rustam dari sakitnya.”

Baca Juga:   Orang Takwa

Kiai Suaib mengarahkan pandangannya ke arah santri-santri yang lain. Mereka saling pandang, lalu mereka hanya menunduk dan hanya bisa menggelengkan kepala.

Sambil memancarkan raut wajah yang kecewa, ia membubarkan pengajian itu, lalu berdiri, berjalan menuruni undakan, melangkah tertatih-tatih menuju ke ndalem sambil terbatuk-batuk.

Sebelum Kiai Suaib beranjak, ia berpesan agar Rustam diberi makan. Besok Rustam akan dibawa ke rumah sakit.

“Sehabis salat isya, beri dia makan. Kalian boleh memberikan makanan, asal kalian tidak bersentuhan dengannya. Jaga jarak kalian!” suruh Kiai Suaib kepada kami.

Suara air mancur dari kolam terdengar lamat-lamat. Jangkrik mengalun merdu di tengah-tengah keheningan malam. Dengan keheranan, kami semua masih termenung, dan dibuat bertanya-tanya mengapa Kiai Suaib meninggalkan kami begitu saja.

Baca Juga:   Wajah Ibu di Bingkai Jendela

Apa gara-gara Rustam adalah santri kinasih sehingga kehadirannya sangat berarti? Atau karena Rustam sering melayaninya, sehingga kehadiran kami tak berarti jika tidak ada Rustam? Pikiranku berkecamuk. Kami masih berkumpul di tempat itu. Ada yang masih bersila sambil mengobrol dengan yang lain. Ada pula yang berselonjor membaca kitab sambil menunggu azan isya terdengar.

Akhirnya, azan isya terdengar dari pengeras suara masjid kampung. Lalu, salah satu dari kami berdiri menghidupkan toa. Azan saling bersahutan antara suara toa pesantren dengan toa masjid kampung.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan