Binatang Buas di Lembaga Pendidikan

250 kali dibaca

Manusia, sesuci apa pun, tidak mungkin menjadi malaikat. Di dalam diri manusia selalu ada dorongan-dorongan sabu’iyah, yakni hasrat buas untuk memangsa manusia lain atau dalam istilah Plautus, dalam Asinaria, homo homini lupus est. Dalam kadar tertentu, dorongan demikian lemah dan bisa ditundukkan. Namun, dalam saat lain, ia bisa jadi  muncul dan berkuasa.

Di lembaga pendidikan, dorongan binatang buas ini di dada peserta didik dan pendidik tidak jarang bertakhta. Kasus-kasus kekerasan hingga yang mengakibatkan korbannya tewas yang dilakukan siswa kepada siswa lainnya bisa kita baca dengan mudah di media. Yang terbaru adalah santri memukul santri lain hingga tewas. Kasus terakhir ini mengejutkan sebab pesantren adalah pendidikan plus. Ia berdiri di atas dua fundamen mulia: ilmu dan agama.

Advertisements

Kita sepakat bahwa tidak ada lembaga pendidikan yang mengizinkan tindak kekerasan macam binatang buas ini. Ketika ada kasus tewasnya siswa atau santri yang dibogem, ditendang, atau dipukul pakai pentungan oleh temannya sendiri, kita jelas diizinkan bertanya tentang apa yang salah dengan lembaga pendidikan tersebut.

Baca juga:   Beragama Tanpa Akhlak

Saya pribadi mengamati ada dua hal yang menyebabkan tragedi itu terjadi.

Pertama, pembiaran. Tindak kekerasan itu terjadi karena dibiarkan oleh siswa. Siswa membiarkan temannya dipukuli habis-habisan sebab dia tidak mau menanggung risiko jika melaporkan kasus tersebut kepada pihak lembaga.

Pola kekerasan jenis ini semacam aksi mafia yang bercirikan adanya geng atau kelompok dan juga kuasa disebabkan senioritas. Siswa kelas atas, yang merasa paling senior dan kadang pula diberi kepercayaan oleh lembaga untuk mengurus adik-adik yuniornya, tampil sebagai binatang buas. Mereka tidak hanya melebamkan korban, tapi juga pihak-pihak yang berani melaporkan tindakan mereka kepada pihak berwenang.

Baca juga:   Generasi Milenial, Generasi al-Kahfi, Generasi NKRI

Karena ada pembiaran dari siswa, pihak lembaga jelas tidak tahu tentang hal tersebut. Para alumni juga tutup mulut sebab merasa tidak ada gunanya membicarakan hal tersebut ke publik karena bisa-bisa dianggap mencemarkan lembaganya. Alumni yang lain tentu tidak terima jika ada temannya sesama alumni membicarakan aib lembaganya sebab mereka adalah eks pelaku kekerasan itu sendiri.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan