Belajar dari “Warung Kejujuran”

1,267 kali dibaca

Ada pemandangan menarik di sekitar pelataran Masjid Ar-rahmah, yang berada di Jl Raya Leces, Probolinggom, Jawa Timur. Sebuah aktivitas dagang melalui warung kejujuran sebagai kreativitas dan inovasi pengembangan ekonomi yang digagas oleh takmir masjid setempat.

Warung kejujuran ini tidak seperti warung pada umumnya. Semua proses pelayanan dagang tidak dilakukan oleh seorang pelayan ataupun seorang kasir. Pelayanannya cukup dikendalikan dengan petunjuk tertulis, sehingga para pembeli dapat melakukan transaksi secara mandiri.

Advertisements

Tidak nampak satupun penjual, namun para pembeli dapat mengambil barang yang diperlukan, atau sekadar meracik seduhan kopi secara bebas. Selanjutnya, para pembeli juga dapat melakukan pembayaran dengan cara memasukkan besaran rupiah pada kotak yang tersedia.

Konon, gagasan warung kejujuran ini dibangun oleh takmir masjid, terinspirasi dari fenomena masjid yang selalu menjadi jujukan para musafir dari arah Jember atau Banyuwangi menuju Surabaya, atau sebaliknya. Banyak musafir silih berganti datang dan pergi meski sekadar singgah sesaat setiap harinya di masjid ini.

Sekadar gambaran, saat berkesempatan singgah,penulis dapat melihat langsung bagaimana aktivitas dagang ini berjalan. Bahkan, penulis juga melihat banyak kendaraan travel  maupun pribadi keluar masuk masjid, kemudian rombongan yang turun selain bergegas ke masjid, sebagian lagi menuju warung kejujuran, meski sekadar membeli kopi maupun makanan ringan yang diperlukan.

Aktivitas dagang yang terjadi dalam warung kejujuran ini menggunakan sistem pelayanan sendiri. Pengelola sengaja menggunakan konsep kejujuran para pembeli, sehingga transaksi dilakukan meskipun tidak ada seorangpun penjaga warung. Sehingga seorang pembeli harus melayani diri sendiri, bahkan para pembeli juga menghitung jumlah makanan atau minuman yang telah dibeli secara mandiri.

Tidak tangung-tanggung, berdasarkan informasi yang dapat ditelusuri dari banyak sumber, warung kejujuran yang buka selama 24 jam ini ternyata juga mampu mendapatkan omzet dengan nilai yang cukup fantastis. Berkisar antara Rp 60 juta hingga Rp 70 juta dapat diperoleh untuk setiap bulannya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan