Azyumardi Azra, Cendikiawan yang Tak Tergoda Politik Praktis

99 kali dibaca

Kontribusi dan pemikiran Azyumardi Azra bagi bangsa Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Tokoh-tokoh nasional, intelektual, akademisi, hingga cendekiawan muslim manca negara telah mengakui kegemilangannya. Buku Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, menjadi salah satu dari sekian banyak bukti buku yang berisi memoar dalam sudut pandang tokoh-tokoh mengenai tindak laku Azyumardi Azra.

Sepenggal obituari ini tidak akan hendak menceritakan kompilasi peran-kontribusi seorang Azra secara menyeluruh. Karena, rasa-rasanya sangat tidak muat, jika peran yang saking banyaknya itu kemudian diterbitkan di media online. Secara khusus, obituari ini akan fokus pada ranah kepenulisan. Tidak dapat dimungkiri, meskipun usia wafatnya berinjak 67 tahun, Azyumardi Azra masih semangat dan produktif dalam menulis.

Advertisements

Produktivitas menulisnya ia tekuni semenjak menjadi mahasiswa, di tengah kesibukannya menjalani kuliah dan juga sebagai aktivis. Saat masih mahasiswa, ia bahkan menjadi wartawan di majalah Panji Masyarakat (1972—1982) yang dirintis Buya Hamka. Di sinilah, pemikiran-pemikiran Azra mulai dipoles dengan menghasilkan artikel-artikel yang membanjiri berbagai kolom media.

Baca juga:   Kiai Syafaat, “al-Ghazali” dari Jawa

Tren positif menulisnya kemudian berlanjut setelah lulus program doktoral dari Universitas Columbia, di mana ia kembali ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menjabat sebagai editor in chief Jurnal Studia Islamika, jurnal ilmiah yang sekarng telah bereputasi peringkat Quartile 1 (Q1) dan berhak menempati peringkat lima besar jurnal ilmiah terbaik di tingkat Asia bidang religious studies.

Berkat kecemerlangan melanjutkan hingga program doktoralnya di Universitas Columbia dan Jurnal Studia Islamika ini, Azra banyak menuangkan pemikiran-pemikiran lewat tulisan yang genuine. Sehingga namanya semakin terkenal di kancah internasional di mata para pemerhati Islam. Dan Azra pun menjadi favorit untuk diundang sebagai dosen tamu di berbagai perguruan tinggi bergensi di luar negeri.

Baca juga:   Trilogi Pemikiran Abah Kiai Siddiq Pungging

Lebih lanjut, kecermalangan dan kontribusi dalam kancah Internasional menjadikannya kemudian diapresiasi dengan memperoleh berbagai penghargaan bergengsi, yang jarang didapatkan oleh kebanyakan orang. Tahun 2010, penghargaan dari Ratu Elizabeth Inggris berupa gelar Commander of The Order of British Empire (CBE). Kemudian gelar Fukuoka Prizei oleh Yokotapia Foundation, Jepang atas capaian tertinggi individu atau organisasi dalam melestarikan kebudayaan Asia. Tahun 2017 mendapatkan Rising Sun: Gold and Silver Star dari Kaisar Jepang. Dan masih banyak penghargaan nasional yang diperolehnya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan