Azyumardi Azra, Cendikiawan yang Tak Tergoda Politik Praktis

135 kali dibaca

Kontribusi dan pemikiran Azyumardi Azra bagi bangsa Indonesia memang sudah tidak diragukan lagi. Tokoh-tokoh nasional, intelektual, akademisi, hingga cendekiawan muslim manca negara telah mengakui kegemilangannya. Buku Karsa untuk Bangsa: 66 Tahun Sir Azyumardi Azra, menjadi salah satu dari sekian banyak bukti buku yang berisi memoar dalam sudut pandang tokoh-tokoh mengenai tindak laku Azyumardi Azra.

Sepenggal obituari ini tidak akan hendak menceritakan kompilasi peran-kontribusi seorang Azra secara menyeluruh. Karena, rasa-rasanya sangat tidak muat, jika peran yang saking banyaknya itu kemudian diterbitkan di media online. Secara khusus, obituari ini akan fokus pada ranah kepenulisan. Tidak dapat dimungkiri, meskipun usia wafatnya berinjak 67 tahun, Azyumardi Azra masih semangat dan produktif dalam menulis.

Advertisements

Produktivitas menulisnya ia tekuni semenjak menjadi mahasiswa, di tengah kesibukannya menjalani kuliah dan juga sebagai aktivis. Saat masih mahasiswa, ia bahkan menjadi wartawan di majalah Panji Masyarakat (1972—1982) yang dirintis Buya Hamka. Di sinilah, pemikiran-pemikiran Azra mulai dipoles dengan menghasilkan artikel-artikel yang membanjiri berbagai kolom media.

Tren positif menulisnya kemudian berlanjut setelah lulus program doktoral dari Universitas Columbia, di mana ia kembali ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menjabat sebagai editor in chief Jurnal Studia Islamika, jurnal ilmiah yang sekarng telah bereputasi peringkat Quartile 1 (Q1) dan berhak menempati peringkat lima besar jurnal ilmiah terbaik di tingkat Asia bidang religious studies.

Berkat kecemerlangan melanjutkan hingga program doktoralnya di Universitas Columbia dan Jurnal Studia Islamika ini, Azra banyak menuangkan pemikiran-pemikiran lewat tulisan yang genuine. Sehingga namanya semakin terkenal di kancah internasional di mata para pemerhati Islam. Dan Azra pun menjadi favorit untuk diundang sebagai dosen tamu di berbagai perguruan tinggi bergensi di luar negeri.

Lebih lanjut, kecermalangan dan kontribusi dalam kancah Internasional menjadikannya kemudian diapresiasi dengan memperoleh berbagai penghargaan bergengsi, yang jarang didapatkan oleh kebanyakan orang. Tahun 2010, penghargaan dari Ratu Elizabeth Inggris berupa gelar Commander of The Order of British Empire (CBE). Kemudian gelar Fukuoka Prizei oleh Yokotapia Foundation, Jepang atas capaian tertinggi individu atau organisasi dalam melestarikan kebudayaan Asia. Tahun 2017 mendapatkan Rising Sun: Gold and Silver Star dari Kaisar Jepang. Dan masih banyak penghargaan nasional yang diperolehnya.

Baca juga:   Karomah Mbah Kholil (6): Naik Karocok Salat di Makkah

Sedangkan, dalam kancah nasional, pencapaiannya ditegaskan dengan pengukuhannya sebagai guru besar. Aspek yang digeluti Azra yakni berkonsentrasi pada ilmu sejarah. Makanya, tidak jarang juga ia disebut sebagai ilmuan sejarah Islam. Kajian-kajian yang dihasilkan diarahkan pada Islam Nusantara hingga kajian Islam Asia Tenggara.

Meskipun namanya telah melambung tinggi di kancah nasional bahkan global tidak lantas menjadikan Azra tergoda pada politik praktis. Azra berani menjaga jarak dan tetap kekeh dengan jalan independennya sebagai sebagai ilmuwan tulen, ilmuwan merdeka, akademisi sejati yang tetap menulis, mengkritisi, meneliti, mendidik, mengabdi pada agama dan bangsa.

Azra bukanlah sosok yang apolitis, ia juga sangat vokal terhadap berbagai sendi kehidupan misalnya soal pendidikan nasional, politik, hingga masalah keberagaman. Jika melihat kejanggalan di salah satu sektor yang tidak sehat, maka ia akan mengkritisi secara tajam. Sikapnya fair sekaligus transparan, kalau bagus, maka akan mengatakan bagus, dan jikalau terdapat kebijakan keliru, maka akan kritik konstruktif.

Dan sikap daya kritis yang baru-baru ini ia tulis dalam dewanpers.or.id (11/9/22) berupa indeks demokrasi Indonesia yang mengalami kemunduran. Hal ini ditandai dengan penegakan hukum yang tidak mencerminkan keadilan menjadi sebuah fakta. Contohnya, banyak narapidana korupsi yang memperoleh diskon hukuman besar-besaran.

Kegemaran dalam menulisnya lambat laun kemudian melahirkan berbagai karya tulis baik dalam buku, artikel jurnal, esai, dan lain-lain. Judul buku yang diterbitkan antara lain: Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Renasains Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana & Kekuasaan, Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal, Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi di Tengah Tantangan Milenium III, dan masih banyak lagi.

Baca juga:   KH Husein Muhammad (3): Pelopor Fikih Feminis

Hal yang menarik dan patut menjadi teladan bagi kita bahwa tradisi yang dilakukan Azra setiap tahun yang meluncurkan buku. Ketika di usia 65 tahun kemarin, ia meluncurkan 8 buku. Hal yang membuat salut banyak orang, ia masih terus menulis untuk surat kabar nasional. Sungguh sangat produktif di tengah usia yang sudah senja.

Oman Faturrahman, kolega guru besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menuturkan, Azra bisa menulis di mana saja. Bahkan, sekalipun di mobil maupun di pesawat, ia dapat melakukannya. Menulis bagi Azra memang suatu keharusan. Oleh karena itu, ia terbiasa menulis kapan pun, di mana pun, dan tidak perlu menunggu siap untuk menulis dan tergantung mood.

Dan terakhir yang membuat saya kagum dengan beliau, ia selalu memberikan gambaran masa depan cerah positif kepada Muslim di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Yang terbaru, dalam terbitan Kompas (19/9/22), Azra menulis “Kebangkitan Peradaban, Memperkuat Optimisme Muslim Asia Tenggara”.

Tulisan yang disajikan dengan kritis dan argumentatif menjadi obat refleksi –terutama bagi saya– bahwa sedigdaya apapun negara Amerika dan Eropa, ternyata sedang mengalami kemunduran peradaban. Justru, perkembangan peradaban sekarang telah bergeser pada Asia, dan kitalah –Indonesia dan  Malaysia – yang sedang dalam tahap membangkitkan peradaban. Kita-kita semua yang sedang dalam usia produktif semoga bisa menjadi bagian mewujudkan dari kembalinya peradaban Indigenous Muslim Asia Tenggara.

Azyumardi azra telah mewariskan mozaik pemikiran yang mencerahkan. Banyak dari karya tulisnya telah dilahirkan dari olah pikir dan daya kritisnya. Semoga kita semua dapat meneladan dan meneruskan sikap-sikap beliau, teruyama di bidang kepenulisan.

Selamat jalan Prof Dr Azyumardi Azra, M. Phil., M.A., CBE., namanu dan jasa-jasamu akan abadi dalam karya-karyamu. Lahu al-Fatihah.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan