“Aku Tidak Tahu”

319 kali dibaca

Informasi yang meluber di era teknologi seharusnya dijadikan introspeksi mengambil kesimpulan dari banyak sudut pandang. Namun yang terlihat malah upaya mempertontonkan sikap gegabah dan kebodohan dalam menilai sesuatu. Ilmu pengetahuan yang diserap tidak sempat diolah karena kemalasan berpikir. Lebih suka menghakimi daripada menganalisis sebuah masalah.

Taklid buta dan kefanatikan juga mendorong manusia untuk tidak melihat esensi perdebatan. Asalkan berbeda aliran atau kelompok tidak akan diterima informasinya, selain tuduhan hoaks dan sumpah serapah. Manusia melihat siapa yang bicara, bukan apa yang dibicarakan. Sehingga sering terjebak pada anomali kebenaran informasi. Mengingkari akal sehat dan hati nurani yang sudah terkontaminasi sikap fanatisme.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Kemalasan berpikir membedah sebuah informasi menjadikan manusia berkutat seputar percaya dan tidak percaya. Jika ada pernyataan sesuai dengan padangannya akan segera dipercayai, sebaliknya jika ada pernyataan yang tak sesuai dengan pandangannya tidak akan pernah dipercayai kebenarannya. Menyederhanakan kesimpulan tanpa usaha mencari keutuhan informasi yang menyebabkan konflik sering terjadi di tengah masyarakat. Apalagi gairah eksistensial manusia modern yang disaranai media sosial menjadikan manusia saling menyalahkan satu dengan yang lain.

Ketika ego dalam diri dipupuk, maka manusia akan membisa-bisakan diri untuk mengetahui segala hal. Merasa mampu menjawab semua pertanyaan dengan kesimpulan yang dangkal. Sering terjebak pada narasi paradoks yang membentuk karakter tidak mau kalah. Bahkan gengsi jika hanya mengucapkan, “aku tidak tahu” ketika dikasih sebuah pertanyaan. Mending jawaban ngawur asalkan kredibilitas manusia berpengetahuan tetap terjaga.

Manusia harus punya slot “tidak tahu” di antara slot percaya dan tidak percaya. Menyadari keterbatasan agar selalu semangat mencari kebenaran informasi. Menyusun metodologi yang runtut dalam mengambil keputusan. Menyaring informasi sebanyak-banyaknya agar menjadi manusia yang tidak gampang “dibodohi” informasi mentah dan gairah fanatisme.

Ketidaktahuan bukan berarti kebodohan. Justru dengan menyadari ketidaktahuan diri adalah proses menuju kedewasaan dalam mengolah informasi. Apalagi luasnya pengetahuan yang semuanya mustahil untuk ditampung kapasitas memori otak manusia. “Aku tidak tahu” adalah jawaban dari manusia yang luas informasi. Semakin pandai (banyak wawasan) seseorang, maka akan menyadari bahwa dirinya bodoh karena banyaknya pengetahuan yang tidak diketahuinya. Sedangkan orang yang mudah menjawab pertanyaan tanpa kapabilitas keilmuan dan rendah literasi merupakan sikap pamer kebodohan yang tidak disadari.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

2 Replies to ““Aku Tidak Tahu””

Tinggalkan Balasan