Aku dan Pesantrenku (7): Nyantri, Lalu Mengabdi

Sejak menjadi santri hingga mengabdi di Lembaga Pesantren Miftahul Huda Sumenep merupakan berkah tersendiri bagi saya. Secara pribadi saya dapat mengembangkan minat dan skill  dalam kehidupan apa saja karena kaidah-kaidah yang dikembangkan pesantren.

Hal tersebut saya rasakan ketika saya belajar di Pondok Pesantren Miftahul Huda mulai dari MI (Madrasah Ibtidaiyah) hingga lulus MA (Madrasah Aliyah) tahun 2014. Pesantren ini berada di Dusun Pangabasen Gapura Timur, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Advertisements
Cak Tarno

Yang saya rasakan, kaidah-kaidah diterapkan di pesantren menuntun saya pada nilai-nilai religiusitas, adab, tawadhu, maupun solidaritas saling berbagi selama di pesantren, dan terlebih kemandirian itu sendiri.

Perbedaan-perbedaan substansial dalam kaidah kehidupan pesantren ini sering kita jumpai di tanah air, baik dari segi moral, etika, maupun estetika. Saya selalu yakin seratus persen, bahwa kehidupan di dalam pesantren ini merupakan kekayaan bagi santri yang mesti dijaga keberadaannya. Maka kemudian yang sering tampak beda dalam kehidupan pesantren adalah kiainya selalu ikhlas, kiai-kiai pesantren sangat telaten mendidik santri, para kiai penuh kesabaran dalam memberikan stimulus aktual kepada santri.

Baca Juga:   Harusnya Kita Mencontoh Israel

Kaidah dan gaya pembelajaran itulah yang kemudian muncul di pesantren-pesantren hingga sebagian banyak santri baru bisa menerapkan ekspresivitas selama hidup di pondok pesantren lalu mengembangkannya di masyarakat.

Hal lain yang menjadi kekayaan tersendiri bagi santri adalah sanat keilmuan kiai-kiai pesantren yang justru lebih mengarah kepada hal-hal kebajikan. Karena, yang jelas, antara satu kiai dengan kiai yang lainnya tidak pernah bercerai-berai dalam kurung tetap satu garis.

Baca Juga:   Setelah FPI Terlarang

Pada dasarnya, perjuangan almarhum Kiai Husamuddin sebagai pendiri Pesantren Miftahul Huda masih bisa dirasakan hingga kini. Ditambah dengan generasi penerus setelah beliau berpulang yang masih bisa dikatakan satu garis atau satu pemikiran dengan visi-misi pendiri pesantren. Meskipun ada banyak program yang sudah diperbaharui, justru yang paling urgen adalah menjaga kekayaan kaidah pesantren itu sendiri tanpa sedikit pun mengurangi rasa patuh kita terhadap nilai dan norma-norma adat ketimuran yang pernah Kiai Husamuddin perjuangkan dulu.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

One Reply to “Aku dan Pesantrenku (7): Nyantri, Lalu Mengabdi”

Tinggalkan Balasan