2TAHUN DUNIASANTRI (11): MEMBANGUN RELASI KESANTRIAN

Terperangkap dalam platform duniasantri.co menemukan jejak-jejak sejarah kesantrian dan kepesantrenan. Sebuah romansa masa lalu bagi para alumni santri, dan suatu riak pengalaman yang mengasyikkan bagi santri aktif.

Web ini menjanjikan sekaligus menyediakan beragam manuskrip yang dapat dijadikan pengetahuan, pengalaman, dan sekaligus refreshing. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya lagi, duniasantri menjadi jejaring relasi kepesantrenan, membangun silaturrahmi santri yang lebih intensif.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Keberadaan duniasantri tidak lepas dari kepesantrenan. Pesantren dan santri adalah sebuah realita atas eksistensi peradaban yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Maka, dapat dipastikan bahwa dunia santri dalam makna literasi menasbihkan keberadaan dinasti pendidikan yang memberikan banyak manfaat positif bagi bangsa dan negara. Pesantren yang di dalamnya santri yang sedang mengenyam pendidikan (Islam) merupakan lembaga pendidikan yang sangat urgen dan signifikan.

Baca Juga:   Tafsir Quran dan Tantangan Kekinian

Saya berkesempatan mengembangkan literasi di duniasantri selama hampir satu tahun. Tidak sedikit kawan-kawan dari pesantren lain yang kemudian terbangun relasi dan koneksi yang saling membangun. Memberikan dampak positif dalam makna kesalingan merupakan nilai lebih yang ada di duniasantri.

Tentu saja yang dimaksud relasi santri di sini adalah kesantrian dengan makna luas. Santri yang benar-benar pernah belajar di sebuah pondok pesantren. Atau juga santri yang memiliki jiwa kepesantrenan, loyalitas kesantrian untuk berkiprah positif terkait pesantren.

Relasi kesantrian bukan sekadar hubungan hambar yang tidak memiliki makna. Di sini, barangkali, yang harus menjadi titik logika bahwa sebenarnya tautan pertemanan akan menjadi sangat berkualitas jika dibarengi dengan niat tulus dan ikhlas. Bahwa sebagai teman yang baik harus memberikan kemanfaatan. Begitu juga dengan sebuah wadah pertemanan, mestinya diapresiasi dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:   Puasa dan Warung Makan

Misalnya saja, ketika duniasantri.co mengadakan temu silaturrahmi melalui jejaring virtual, dalam pengalaman saya hanya beberapa santri yang aktif mengikutinya. Dari sekian kontributor, yang ikut berpartisipasi dalam virtual silaturrahmi tidak sampai 25%. Pola pikir seperti ini perlu di-upgread agar terjadi hubungan timbal balik antara satu dengan lainnya. Relasi kesantrian yang dibangun oleh duniasantri menjadi berkualitas dan berdaya guna.

Tinggalkan Balasan