Tradisi Diba’an Kaum Santri

8.085 kali dibaca

Pada saat saya masih menjadi salah satu santri di sebuah pesantren di Desa Nglawak, Kertosono, banyak tradisi yang dilakukan secara rutin tiap minggu di pesantren. Salah satu tradisi yang biasa dilakukan adalah pembacaan diba’iyyah atau yang biasa dikenal dengan diba’an. Dulu tradisi ini dilakukan setiap hari Kamis malam selesai jamaah salat isya. Untuk kami kaum santri, diba’an sudah tidak asing lagi dan bahkan menjadi suatu hal yang wajib dilaksanakan.

Diba’an pada umumnya adalah tradisi masyarakat Jawa yang biasa dilaksanankan dalam sebuah hajatan seperti walimatul khitan, walimatul ursy, syukuran kepulangan dan keberangkatan ibadah haji, atau biasanya dilaksanakan untuk menyambut bulan Maulid yang di masyarakat Jawa biasa dikenal dengan istilan “muludan”.

Advertisements

Diba’an adalah tradisi membaca atau melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW secara bersama-sama dan bergantian. Ada bagian yang dibaca biasa, namun sebagian besar dibaca menggunakan lagu. Istilah diba’an mengacu pada kitab berisi syair pujian karya al-Imam al-Jaliil as-Sayyid as-Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy asy-Syaibani az-Zubaidi al-Hasaniy. Kitab tersebut secara populer dan dikenal dengan nama kitab Maulid Diba’.

Baca juga:   Sepinya Gerakan Puisi

Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy lahir pada hari ke-4 bulan Muharram tahun 866 H dan wafat hari Jumat 12 Rajab tahun 944 H pada usia 78 tahun. Beliau adalah seorang ulama hadis terkemuka dan mencapai tingkatan hafiz dalam ilmu hadis, yaitu seorang yang menghafal 100.000 hadis lengkap dengan sanadnya. Selain ahli ilmu hadis, Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy juga seorang muarrikh atau ahli sejarah. Beberapa di antara sekian banyak kitab karangannya ialah Taisirul Wusul ila Jaami`il Usul min Haditsir Rasul, Qurratul ‘Uyun fi Akhbaril Yaman al-Maimun, Bughyatul Mustafid fi Akhbar Madinat Zabid, dan lain-lain.

Baca juga:   Menyoal Kurikulum Merdeka di SMK Berbasis Pesantren

Kitab maulid diba’ berisikan sejarah Nabi Muhammad yang digubah dalam bentuk prosa yang indah atas nama cinta, serta syair-syair pujian penuh kerinduan kepada manusia terpilih sang kekasih Allah. Tradisi diba’an ini dilakukan sebagai wujud cinta kasih umat kepada Nabi Muhammad melalui lantunan selawat dan puji-pujian.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan