Tolak Badriyah (Bagian 2)

Acara haul Kiai Yahya, pendiri pesantren ini sekaligus kakek buyutku, masih seminggu lagi. Tetapi orang-orang sudah mulai sibuk melakukan persiapan-persiapan. Para perempuan banyak yang sudah berkumpul di dapur untuk membantu mengupas bawang dan membuat bumbu-bumbu halus. Mulai dari bumbu hitam, bumbu putih, dan bumbu merah. Ada juga yang sedang mengadon tepung untuk dijadikan kue-kue kering sebagai kudapan tamu. Sesekali terdengar gelak tawa di tengah obrolan-obrolan mereka. Sementara itu, di sekitar aula pondok, banyak lelaki mulai membersihkan rumput-rumput liar, memangkas pohon-pohon yang dahannya mulai menjulur tidak beraturan, serta melakukan pengecetan di tembok serta kusen-kusen jendela dan pintu.

Beberapa santri putra mulai mencopoti gorden ruangan, mengambili karpet-karpet, dan bergegas mencucinya di sungai di selatan pondok. Santri-santri putri berkumpul di ruang perabot untuk mengeluarkan cangkir-cangkir, piring, talam, sendok, mangkok, dan memeriksa jumlahnya. Setelah itu, secara bergantian mereka mencuci barang pecah-belah tersebut dan menatanya di dekat dapur setelah memastikan semuanya bersih.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Setelah mengetik beberapa halaman draf skripsi dan mulai merasa pening karena tidak tahu lagi mau mengetik apa, aku pun beranjak ke dapur. Awalnya hanya menonton saja karena bingung mau membantu apa, sebab sudah terlalu banyak orang yang sibuk bekerja di sana. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk ikut membantu orang-orang yang sedang membuat kue kering: mengolesi nampan kue dengan blue band, membantu mencetak kue dan menatanya dengan rapi, lalu sambil menunggu kue-kue itu masak, aku ikut ngobrol dengan orang-orang di sana.

Baca Juga:   Tolak Badriyah (Bagian 3)

Beberapa menanyakan soal perkembangan skripsiku yang tentu saja kujawab dengan kecut. Aku tidak bilang kalau progresnya masih di situ-situ saja, tetapi aku minta supaya mereka ikut mendoakan agar skripsiku lancar dan cepat selesai.

Tinggalkan Balasan