Tiga Lapis Ilmu

1.463 kali dibaca

Setidaknya, hingga saat ini, etnografi belum pernah gagal memberikan saya pengetahuan baru. Selalu saja ada hal-hal segar yang terselip dan muncul di sela-sela padatnya wawancara tentang topik yang saya gali. Hal segar tersebut bisa berupa cerita masa muda, keluh kesah, jurus bersyukur, ilmu baru, perspektif nyeleneh atau sekadar narsisme yang butuh penyaluran. Semua bisa muncul di tengah perbincangan karena memang, pada dasarnya, etnografi adalah upaya untuk mengeruk sebanyak mungkin informasi yang tersimpan di dalam pikiran informan. Sehingga tidak jarang, hal lain, sebut saja residu memori, mendesak keluar di tengah-tengah wawancara.

Perspektif baru itu juga muncul dalam sebuah wawancara yang saya lakukan dengan salah satu anggota kasepuhan Sendang Tirto Mulyo Januari lalu. Setelah sehari sebelumnya, yakni tanggal 10 Januari 2020, gagal menemui beliau, akhirnya saya berhasil bertemu dengannya keesokan hari.

Advertisements

Ini adalah kali ketiga saya mengunjungi beliau. Kunjungan pertama dan kedua terjadi pada tahun 2016, saat saya mencoba menggali informasi tentang Ritual Adat Ulur-ulur. Siapa sangka, berselang empat tahun setelah itu, saya sekali lagi datang ke rumah ini, berbincang dengan orang dan tentang topik yang sama.

Baca juga:   Guru dan Cermin Moralitas Bangsa

Langit sudah gelap kala saya tiba di rumah sederhana tersebut. Sura pujian dari masjid sayup-sayup meninggalkan udara. Di desa, aktivitas manusia seakan paripurna setelah isya tiba. Setelah itu giliran jangkrik dan makhluk malam yang berorkestra. Ketika tiba di rumahnya, Mbah Pamuji, sesepuh yang saya tuju, sudah berada di teras rumah bersama dengan menantunya yang saya temui sehari sebelumnya. Mereka telah menunggu saya.

Baca juga:   Harusnya Kita Mencontoh Israel

Setelah salim, dan memperkenalkan diri, Mbah Upam, begitu panggilan akrabnya, mempersilakan saya masuk ke dalam rumahnya. Senyumnya yang lebar, serta binar matanya yang hangat, menunjukkan antusiasme yang tinggi. Di ruang tamu yang kira-kira berukuran 6×5 meter tersebut, sudah tergeletak sebuah foto album berisikan dokumentasi ritual, sebuah buku, dan dua cangkir kopi yang masih mengepul asapnya. Saya sempat mengingatkan Mbah Upam, bahwa saya sudah pernah ke rumahnya empat tahun yang lalu. Namun, sepertinya, Mbah Upam sudah sedikit lupa dengan wajah saya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan