Teror Srikandi

87 kali dibaca

Bullshit lo kalau ngomong tentang Srikandi itu, Cha. Gue nggak percaya tahayul,” ucap Cindy, siswa pindahan dari Jakarta itu. Baru seminggu yang lalu Cindy pindah sekolah ke SMA swasta di desa tempatnya harus tinggal mengikuti neneknya. Di Jakarta tidak ada lagi orang yang akan mengurusnya sejak ayah dan ibunya berangkat ke Singapura seminggu sebelumnya, bersamaan dengan kedatangan Cindy di Desa Sumberpati ini. Cindy cepat beradaptasi dengan anak-anak di desa ini. Dia duduk di kelas 2 SMA, dan sekarang sedang berjalan pulang bersama Icha, teman sebangkunya di kelas.

“Yang aku ceritain ini beneran, Cin. Kamu harus percaya dengan adat yang ada di desa yang dipercayai masyarakat sini. Kalau kamu ndak percaya, kamu bisa jadi korban Srikandi selanjutnya,” jawab Icha menjelaskan dengan nada memperingatkan, juga ekspresi serius kepada Cindy.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Cindy tetap cuek, berjalan santai di samping Icha yang begitu antusias bercerita. “Emang Srikandi itu siapa sih, Cha?” tanya Cindy sambil tetap berjalan, namun sedikit memiringkan kepalanya menatap Icha. Icha menghela napasnya panjang dan bersiap untuk menjelaskan lagi.

“Jadi, Cin, Srikandi itu katanya adalah wanita pendiri Desa Sumberpati ini. Dia wanita yang cantik dan pandai. Dia juga menjadi kepala desa pertama di desa ini. Tapi suatu saat ada seseorang yang iri terhadap pangkat dan kekayaan Srikandi, lelaki orangnya. Namanya Warsito. Sebenarnya warsito ini adalah orang kepercayaan Srikandi, bisa dibilang tangan kanannya-lah. Namun, ternyata dia menyimpan rasa iri kepada Srikandi dan juga dendam karena dia pernah melamar Srikandi, namun Srikandi menolaknya. Srikandi telah mengambil sumpah untuk selamanya tidak menikah demi mengurus Desa Sumberpati ini, makanya dia menolak lamaran dari Warsito…”

Cindy berhenti berjalan karena melihat sebuah pohon yang begitu rindang. “Cha, kita ke bawah pohon situ aja yuk!” ajak Cindy kepada Icha sambil menunjuk salah satu pohon yang ada dipinggir jalan itu. Icha mengangguk lalu melangkah mendahului Cindy dan duduk di bawah pohon itu. “Oke, lanjutin, Cha!” pinta Cindy kepada Icha.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan