Tantangan Fikih Beragama dan Etika Bermedia

909 kali dibaca

Diskursus berislam kian kompleks dewasa ini. Terdapat pergeseran nilai-nilai prinsipil yang terjadi secara mendasar dan besar-besaran. Dari waktu ke waktu, yang dahulunya agama dinamis, bertranformasi pada fanatisme agama yang purifikatif, hingga mewujud agama ekstrem dan koersif. Wajah agama adalah sebuah ketakutan karena bukan lagi ihwal wahyu tuhan, melainkan konstruksi doktrin paham.

Nalar (fikrah) dan gerakan (halaqah) beragama mengalami degradasi nilai dan dekadensi moral. Nalar ekstremisme, gerakan propaganda, dan ujaran kebencian (hate speech) melalui sistem jaringan terbuka sangat akrab identik dengan agama. Agama dengan dogma-dogma religiositasnya itu sangat ampuh melegitimasi suatu kepentingan, baik kekuasaan yang politis, pengusungan ideologi agama dengan nalar yang dialektika-dikotomis, atau urusan perut dan bisnis yang sifatnya ekonomis. Tidak dimungkiri jika muncul belakangan isu Islamofobia di negara-negara sekularistik, bahkan Indonesia.

Advertisements

Di tengah karut-marut wajah agama, dibutuhkan suatu halakah dakwah digital yang dipromotori oleh mujahid digital. Menjadikan para pemuda sebagai penggerak dakwah di ruang maya (mujahid digital) adalah suatu keniscayaan dewasa ini. Kemampuan intelektual dan kompetensi digital menempatkan mujahid digital dalam posisi sentral dalam halakah dakwah Islam. Mujahid digital harus mampu merestorasi, merestrukturisasi, dan merefungsionalisasi konstruksi dakwah yang moderat dalam aksebilitas jaringan secara besar-besaran.

Hal ini adalah bentuk ikhtiar untuk mengampanyekan Islam moderat (wasathiyah) di ruang-ruang digital. Mujahid digital perlu menyadari bahwa Islam Wasathiyah sudah termajinalkan di Indonesia. Selaras dengan pendapat Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, beragama (berislam) di Indonesia masih cenderung kekanak-kanakan (Kompas, 22/08/2022).

Halakah digital tentu menjadi oase kehangatan di tengah perang dingin antarpaham. Isu propaganda, hoaks, fitnah, bullying, dan narasi adu domba sangat akrab dengan kehidupan umat. Survei terbaru Digital Civility Index (DCI) yang dilakukan oleh Microsoft menunjukkan kesantunan masyarakat Indonesia dalam bemedsos semakin menurun. Dari 11.067 responden yang disurvei selama pandemi, sebanyak 82 persen menyatakan bahwa tingkat kesopanan online memburuk (The Official Micrisoft Blog, edisi Februari 2020).

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan