Tak Ada Makan Siang Gratis

827 kali dibaca

“Tak ada makan siang gratis,” kata pepatah.
“Saya akan kasih makan siang gratis,” kata politisi.

***

Advertisements

New Orleans abad ke-19. Mungkin karena daya beli masyarakat sedang lesu, banyak bar di Crescent City, New Orleans, Amerika Serikat membuat banyak gimmick untuk mengundang pelanggan. Salah satunya dengan menawarkan “layanan” makan siang gratis alias free lunch.

Namun, sekali lagi, cuma “makan siang” yang diberikan secara cuma-cuma alias gratis, tidak dengan minumannya. Jika seorang pelanggan ingin minum, tentu ia harus membelinya, di warung itu juga. Tentu, seorang pelanggan tidak diperkenankan membawa minuman dari luar atau rumah sendiri.

Bagaimana jika ada seorang pelanggan hanya ingin menikmati layanan makan siang dan tidak ingin minum? Konon, pemilik bar sudah menyiapkan “jebakan batman”. Menu layanan makan siang gratis tersebut diramu sedemikian rupa, dengan kadar garam yang tinggi atau mungkin juga rasa pedas yang sangat. Sehingga, sehabis menyantap makan siang, mau tak mau orang dipaksa harus minum bahkan lebih banyak dari biasanya. Tak berhenti di situ, sang pemilik bar sudah menyiapkan menu minuman dengan harga yang sudah dikatrol. Pelanggan pun terpaksa harus membeli minuman dengan harga yang lebih mahal dari biasanya.

Dengan strategi promosi seperti itu, sesungguhnya tidak ada makan siang gratis. Sebab, harga makanan yang disajikan lewat layanan makan siang tersebut sudah dibebankan pada harga minuman. Orang yang tidak jeli akan merasa telah diberi layanan makan siang gratis, padahal ketika ia membayar minumannya, sudah termasuk membeli makanannya. Sejak itu mulai popular ungkapan “No free lunch” alias tak ada makan siang gratis.

Fenomena itu dibaca oleh ekonom pemenang Nobel Milton Friedman, lalu ia mempopulerkan ungkapan tersebut yang sering digunakan untuk menggambarkan analisis ekonominya. Frase yang sering dia pakai adalah “There’s no such thing as a free lunch” atau dalam versi pendek cukup no free lunch.

Milton Friedman merupakan ekonom pasar bebas dan teori moneternya yang sangat berpengaruh pada masa pemerintahan Presiden Reagan dan Perdana Menteri Thatcher era 1980-an dan 1990-an. Friedman mempopulerkan frasa atau pepatah ini melalui bukunya yang terbit tahun 1975. Ungkapan ini cukup bernas untuk menggambarkan bahwa tak ada sesuatu yang gratis di dunia ini, terutama dalam urusan ekonomi kemudian politik. Seseorang tetap harus membayar apa yang ia kunyah atau sesuatu yang ia nikmati. Baik membayar dalam pengertian harfiah atau, dan bisa jadi ini lebih sering, sebaliknya.

Pepatah no free lunch atau tidak ada makan siang gratis itu akhirnya mendunia, dan menjadi ungkapan sehari-hari dalam relasi orang per orang. Jika ada seorang pebisnis mentraktir makan siang relasinya, bisa dipastikan itu bukanlah makan siang gratis. Pasti ada sesuatu yang akan dinegosiasikan. Dan sang relasi harus sudah siap-siap dengan apa akan membayarnya. Begitu juga jika ada seorang politisi mengajak makan siang sejawatnya, bisa dipastikan itu juga bukanlah makan siang gratis. Bisa dipastikan ada udang di balik batu. Setidaknya ia sedang memerlukan dukungan atau membeli suara dengan makan siangnya.

Pepatah memang bukan dalil dari kitab suci atau buah dari pemikiran ilmiah sehingga sering terkesan tidak logis atau mengada-ada. Tapi seringkali ia bernas menggambarkan sesuatu yang jamak terjadi. Fenomena di bar-bar di New Orleans abad ke-19 tersebut membuktikannya: gimmick-nya, free lunch; faktanya, no free lunch.

Terserah kita, mau percaya yang mana dengan kutipan di bawah ini:
“Tak ada makan siang gratis,” kata pepatah.
“Saya akan kasih makan siang gratis,” kata politisi.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan