Syekh Al-Banjari dan Ikhtiar Mengenal Tuhan

136 kali dibaca

Siapa yang tak kenal sosok ulama yang satu ini. Namanya sudah tersohor di seantero negeri. Dialah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama asal Banjar, Kalimantan Selatan. Ajaran tasawufnya tetap hidup hingga kini.

Nama lengkapnya Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari. Dia dilahirkan di Desa Lok Gabang yang sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjarmasin, pada 15 Shafar 1122 H atau 17 Maret 1719M. Dia wafat pada 6 Syawal 1227 H atau bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1812 M di kampung Dalam Pagar. Jenazahnya dikebumikan di Kalampaian, Martapura, Kalimantan Selatan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Selama masa hidupnya, Al-Banjari tinggal di dua tempat yang mempengaruhi jalan hidupnya kelak, yaitu di Martapura sebagai kampung halamannya yang juga tempat kelahirannya dan tempatnya berdakwah hingga wafatnya. Selain itu, Al-Banjari tinggal di Tanah Suci Mekkah dan Madinah. Di dua tempat ini ia menuntut ilmu dan berguru kepada ulama-ulama besar, sampai akhirnya nanti Al-Banjari menjadi pengajar di Masjidil al-Haram Mekkah.

Situasi kultural dan srtuktural pada masa Al-Banjari, yaitu sekitar abad ke-18 dan ke-19 awal, tentu saja sangat mempengaruhi pemikiran keagamaannya di berbagai bidang. Pada masa hidupnya, Al-Banjari bertemu dengan empat raja Kerajaan Banjar di Martapura yang waktu itu bertakhta, yaitu Sultan Tahlilullah Raja Banjar XIV (1799-1745 M), Sultan Tamjidillah Raja Banjar XV (1700-1745 M), Sultan Tahmidillah Raja Banjar XVI (1778-1808 M), dan yang terakhir yaitu Sultan Suleman Raja Banjar ke XVII (1808-1825 M). Dari keempat sultan tersebut, yang membiayai perjalanan dan pendidikan Al-Banjari di Tanah Suci adalah Sultan Tamjidillah Raja Banjar XV.

Sebelum Al-Banjari berdakwah hampir tak ditemukan data yang menunjukkan situasi keberagamaan masyarakat Islam waktu itu. Namun dapat diperkirakan bahwa di bidang akidah mereka masih terpengaruh oleh unsur-unsur kepercayaan Kaharingan dan juga Hindu Syiwa yang sudah mengakar dalam budaya mayarakat, baik di kalangan rakyat maupun kalanagan raja dan para bangsawan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan