SURAT KEPADA KOTA YANG DIAM

SURAT KEPADA KOTA YANG DIAM 

Aku mengetuk pintu kota
tapi ia hanya menjawab dengan debu.
Aku menulis nama-nama di dindingnya
tapi huruf-hurufku gugur
seperti daun yang tak punya musim.
Kota membangun menara
dari kata-kata kosong
sementara anak-anakmu tidur
dengan perut lapar.
Aku ingin mencintaimu
tapi kau menolak dipeluk
selain oleh poster-poster
dan wajah yang dipoles senyum palsu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

PEREMPUAN DAN NEGARA 

Perempuan itu duduk
di kursi yang patah
menjahit baju anaknya
dengan cahaya lampu redup.
Negara lewat di depannya
membawa mobil hitam dan sirine
tak sempat menoleh
apalagi bertanya
tentang harga beras.
Perempuan itu hanya tersenyum getir
ia tahu:
setiap jahitan kecil di tangannya
lebih jujur daripada seribu pidato
yang menggema di gedung tinggi.

KEKASIH YANG DICURI JALAN RAYA 

Aku kehilanganmu
di antara deru klakson dan baliho.
Cinta kita direbut
oleh lampu-lampu yang lebih terang
dari wajahmu sendiri
oleh jalan raya
yang menelan langkah kita.
Aku ingin bicara padamu
tentang puisi
tentang tubuhmu yang seperti doa
tapi di telingamu hanya ada berita
tentang janji, tentang kuasa.
Kekasihku,
betapa sulit mencintaimu
di negeri yang menjual kata-kata
dan menyisakan kita
sebagai puisi tanpa pembaca.

TENTANG BUKU YANG DIBAKAR 

Aku masih mencium bau kertas
yang terbakar di alun-alun.
Mereka bilang itu demi ketertiban
demi menjaga generasi
dari kata-kata beracun.
Tapi aku tahu
tak ada racun di buku
selain kebenaran yang ditakuti.
Mereka bisa membakar halaman-halaman itu
tapi tak bisa membakar
mata anak-anak
yang sudah membaca
dan tak mau lupa.

 

SURAT CINTA YANG TAK PERNAH SAMPAI 

Aku menulis surat padamu
tapi tukang pos menolak mengantarkan.
Katanya alamatmu kini
berada di bawah tanah
bersama nama-nama yang disamarkan
di makam tanpa nisan.
Kekasihku,
bagaimana aku harus mencintaimu
jika bahkan kata ‘cinta’
dianggap terlalu berbahaya
untuk sampai di tanganmu?

DOA DI BAWAH JENDELA PENJARA 

Aku mendengar napasmu
melewati jeruji
tipis seperti doa
yang hampir padam.
Mereka merantai tanganmu
tapi tak bisa merantai
suaramu yang menembus dinding.
Setiap kata yang kau bisikkan
adalah peluru kecil
yang menembus dada mereka
meski kau hanya duduk
di lantai dingin penjara.

NEGERI YANG MENGUBUR BUNGA 

Di taman kota
aku melihat bunga-bunga dicabut
diganti plastik warna-warni
yang tak pernah layu.
Mereka bilang ini kemajuan—
bunga tak akan busuk
tak akan jatuh.
Tapi aku menangis diam-diam:
apa gunanya taman
jika wangi bunga dihapus
dan kita dipaksa hidup
dengan keindahan yang palsu?

Sumber ilustrasi: depositphotos.

Multi-Page

One Reply to “SURAT KEPADA KOTA YANG DIAM”

Tinggalkan Balasan