SURAT KEPADA KOTA YANG DIAM
Aku mengetuk pintu kota
tapi ia hanya menjawab dengan debu.
Aku menulis nama-nama di dindingnya
tapi huruf-hurufku gugur
seperti daun yang tak punya musim.
Kota membangun menara
dari kata-kata kosong
sementara anak-anakmu tidur
dengan perut lapar.
Aku ingin mencintaimu
tapi kau menolak dipeluk
selain oleh poster-poster
dan wajah yang dipoles senyum palsu.

PEREMPUAN DAN NEGARA
Perempuan itu duduk
di kursi yang patah
menjahit baju anaknya
dengan cahaya lampu redup.
Negara lewat di depannya
membawa mobil hitam dan sirine
tak sempat menoleh
apalagi bertanya
tentang harga beras.
Perempuan itu hanya tersenyum getir
ia tahu:
setiap jahitan kecil di tangannya
lebih jujur daripada seribu pidato
yang menggema di gedung tinggi.
KEKASIH YANG DICURI JALAN RAYA
Aku kehilanganmu
di antara deru klakson dan baliho.
Cinta kita direbut
oleh lampu-lampu yang lebih terang
dari wajahmu sendiri
oleh jalan raya
yang menelan langkah kita.
Aku ingin bicara padamu
tentang puisi
tentang tubuhmu yang seperti doa
tapi di telingamu hanya ada berita
tentang janji, tentang kuasa.
Kekasihku,
betapa sulit mencintaimu
di negeri yang menjual kata-kata
dan menyisakan kita
sebagai puisi tanpa pembaca.
TENTANG BUKU YANG DIBAKAR
Aku masih mencium bau kertas
yang terbakar di alun-alun.
Mereka bilang itu demi ketertiban
demi menjaga generasi
dari kata-kata beracun.
Tapi aku tahu
tak ada racun di buku
selain kebenaran yang ditakuti.
Mereka bisa membakar halaman-halaman itu
tapi tak bisa membakar
mata anak-anak
yang sudah membaca
dan tak mau lupa.
Salam cinta berpeluk diksi puisi. Mantap,,,