Siapa Ibu Kita

203 kali dibaca

Kita tak bisa memilih, atau menolak, siapa ibu kita. Sang pemilik rahim dari mana kita dilahirkan bisa siapa saja. Ia bisa saja seorang ratu, ibu suri, atau permaisuri. Ia bisa saja seorang roro, nyai, sosialita, pengangguran, pengemis, pemulung, atau bahkan pelacur. Ia bisa saja perempuan berdarah Jawa, Bali, Madura, Minang, Sunda, Dayak, atau yang datang dari negeri-negeri jauh. Kita benar-benar tidak bisa memilih, atau menolak, dari rahim siapa dilahirkan. Andai bisa, tentu saya akan memilih dilahirkan dari rahim seorang bidadari.

Sesungguhnya, ibu kita masih memiliki sedikit kemungkinan, apakah hendak menerima atau menolak untuk melahirkan siapa yang dikandungnya. Tapi, meskipun prosesnya seringkali begitu menyakitkan, toh ibu kita akhirnya menerima kelahiran kita, kehadiran kita, dengan sepenuh cinta. Kita ditimang dengan cintanya. Kita disusui dengan kasih sayangnya.

Advertisements

Seorang ibu tak pernah menyesali telah melahirkan kita, anak-anaknya. Ibu kita tak pernah iri kenapa tidak melahirkan yang bukan kita. Siapa pun kita, yang lahir dari rahimnya, akan didaku sebagai anak yang paling ganteng atau cantik, yang paling salih atau salihah, dibandingkan dengan anak-anak orang lain. Setidaknya, itulah doa yang terpanjat dari lubuk hati setiap ibu.

Ini berbeda dengan kita. Di antara kita seringkali masih muncul rasa iri: kenapa bukan kita yang dilahirkan dari rahim seorang ibu suri atau permaisuri agar sepanjang hidup ditimang oleh kemewahan dan kekuasaan; atau kenapa bukan kita yang dilahirkan dari rahim seorang ibu yang tajir melintir sehingga kita tak perlu ikut banting tulang dan peras keringat agar terus bisa bersekolah.

Ini berbeda dengan ibu kita. Ibu kita tak pernah menyesali telah melahirkan kita, yang ternyata bukan mereka yang menjadi raja, menjadi penguasa, menjadi pengusaha, dan sebangsanya. Ia hanya tak ingin kita, yang dilahirkannya, menjadi pendurhaka dan pembawa malapetaka. Karena itu, ia akan dengan telaten dan gemati sepanjang waktu memberikan pendidikan yang terbaik buat anak-anaknya. Bahkan, banyak ibu yang hanya karena ingin memberikan pendidikan terbaik sampai harus melakukan “hal-hal tak baik” dari kaca mata norma-norma yang ada. Tapi, apapun, itu adalah bentuk pengorbanan dari seorang ibu.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan