Setelah Kaban Berkurban

168 kali dibaca

Justru setelah berkurban, Kaban merasa terteror oleh mimpi buruk. Bahkan hingga Hari Raya Kurban telah lama berlalu, mimpi buruk itu selalu menindih-nindih yang membuat Kaban tak bisa tidur nyenyak.

Pertama kali mimpi itu datang sekitar dua pekan setelah hari pemotongan hewan kurban, ketika irisan daging terakhir telah ludes disantap. Dan mimpi itu rutin mengunjungi tidurnya, dan kemudian ia menceritakannya kepada istrinya.

Advertisements

***

Kaban kaget bukan kepalang ketika malaikat menyerahkan seekor hewan kepadanya.

“Ini kendaraan keluargamu menuju surga.”

Kaban bengong sebentar, lalu menggeleng, “Ini bukan sapi kami.”

“Iya, bukan. Pasti salah alamat,” istrinya menimpali.

“Ini pasti sapi orang lain. Ini sapi yang tertukar,” Kaban mengimbuhi.

“Mana ada Tuhan membuat kesalahan,” jawab malaikat.

“Tapi sapi yang kami beli untuk kurban tidak seperti ini. Kami membeli sapi yang sangat mahal. Gemuk dan sehat. Sangat berdaging. Warnanya kuning keemasan. Bersih berkilau dan mulus. Seperti sapi persembahan kaumnya Nabi Musa. Sungguh, tidak seperti ini,” kata Kaban mundur selangkah sambil menunjuk sapi di depan matanya dengan pandangan sinis.

“Iya, aku saksinya. Saat membeli, aku juga ikut,” istrinya menimpali.

“Sapi kami mirip-mirip seperti itu,” kata Kaban sambil menunjuk sapi lain yang dikendarai keluarga lain yang sedang melintas tak jauh darinya. “Tidak seperti ini!”

Kaban terlihat begitu bergidik melihat sapi di depan matanya. Sapi itu terlihat begitu kurus, nyaris tak berdaging. Yang tersisa hanya tulang belulang yang terbungkus kulit yang kering dan kusam. Bahkan, ekornya pun terlihat sangat keriput dan tak berambut. Yang paling membuat Kaban keheranan, sapinya tidak punya kepala! Wujud sapi itu hanya terdiri dari badan yang kurus dan kaki-kaki yang ringkih.

“Jika benar ini sapi kami, lalu ke mana kepalanya?” tanya istri Kaban.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan