Seri “Wali Pitu” di Bali (2): Habib Ali Bafaqih

536 kali dibaca

Dalam tulisan Seri “Wali Pitu” di Bali bagian 1, salah satu dari tujuh ulama penyebar agama Islam di Pulau Bali adalah The Kwan Lie yang berasal dari dan berkebangsaan Tiongkok. Kali ini, dalam Seri “Wali Pitu” di Bali bagian 2, tokohnya adalah seorang habib kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur: Habib Ali Bafaqih.

Di Pulau Bali yang mayoritas penduduknya pemeluk Hindu, terdapat beberapa kampung muslim, salah satunya adalah Loloan yang terletak di Kabupaten Jembrana. Di sinilah terdapat jejak perjuangan salah satu ulama penyebar Islam di Bali, Habib Ali Bafaqih, seorang wali yang merupakan satu dari tujuh Wali Pitu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Namun, meskipun tanah kelahirannya tak begitu jauh dari Loloan, Habib Ali Bafaqih harus melakukan pengembaraan jauh terlebih dahulu sebelum sampai di kampung Loloan ini. Habib Ali Bafaqih dilahirkan pada 1882 di Kampung Arab, Lateng, Kabupaten Banyuwangi dari pasangan Habib Umar Bafaqih dan Syarifah Nur bin Abdullah Al-Haddad. Sang ibu, Syarifah Nur, merupakan seorang Hafidzoh al-Quran. Sejak belia, Habib Ali Bafaqih memperoleh pendidikan agama dari orangtuanya, terutama ngaji al-Quran. Pada usia 7 tahun, ia telah menguasai nahwu shorof dan menghafal al-Quran. Selain ilmu agama, Habib Ali Bafaqih juga diajari ilmu kependekaran, pencat silat —ini yang membuat ia kelak juga dikenal sebagai pendekar silat.

Setelah memperoleh pendidikan agama dari kedua orangtuanya, Habib Ali Bafaqih melanjutkan berguru kepada para ulama, seperti Habib Muhammad Ba’abud dan Kiai Soleh Lateng. Kemudian, usia 15 tahun berguru kepada KHR Muhammad Kholil di Bangkalan, Madura. Namun, karena dinilai sudah memiliki ilmu yang memadai, oleh Kiai Kholil, Habib Ali Bafaqih justru diminta mengajar para santrinya. Hanya tiga bulan Habib Ali Bafaqih berguru kepada Kiai Kholil lantaran disuruh keluar dari pondok sebab telah memiliki ilmu yang memadai.

Namun, pada usia 17 tahun, sekitar tahun 1899, Habib Ali Bafaqih menuju tanah suci Mekkah untuk memperdalam ilmu agamanya kepada beberapa ulama tersohor ketika itu, seperti Sayyid Abbas Al Maliky Al-Hasani, Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani (Ayah Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasani), Syekh Umar Hamdan Al-Mahrusy, Syekh Nawawi Al-Bantani dan banyak guru lainnya. Rupanya, keberangkatannya ke Mekkah ini atas “sponsor” ulama terkemuka di Banguwangi saat itu, Haji Sanusi. Habib Ali Bafaqih bermukim di Mekkah selama tujuh tahun.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan