Sejarah Panjang Pesantren Al-Arfiyyah Mojoduwur

Di Desa Mojoduwur, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, berdiri Pondok Pesantren Al-Arfiyyah yang saat ini dipimpin oleh Kiai Ahmad Ibnu Su’ud Faishol. Lokasinya kurang lebih 3 km sebelah selatan Pasar Berbek atau kurang lebih 10 km dari kota Nganjuk.

Nama Al-Arfiyyah sendiri diambil dari nama pendirinya, yaitu Kiai Arfiyyah, yang berasal dari Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Nasab Mbah Arfiyah sampai ke Joko Tingkir hingga Syekh Maulana Ishak. Tepaynya, Mbah Arfiyah bin Kiai Djumalim bin Kiai Abdurrahman (Kiai Sambu)-Pangeran Benawa-Djoko Tingkir-Ki Ageng Pengging-Maulana Iskak. Mbah Arfiyah dulunya mondok di Sewulan, Madiun, lalu diambil menantu oleh Kiai Santri. Kiai Santri sendiri adalah menantu dari Kiai Basyariyah Sewulan.

Advertisements
Cak Tarno

Setelah menikah, Kiai Arfiyyah kurang disukai oleh ipar-iparnya karena wujud fisiknya yang dianggap kurang rupawan dibandingkan dengan ipar dan menantu Kiai Basyariyah yang lain. Bahkan, istrinya sendiri malu untuk mengakui Kiai Arfiyyah sebagai suaminya. Karena itu, selama menjadi menantu Kiai Basyriyah, Mbah Arfiyah tidak tidur di rumah mertuanya, tetapi membuat tempat sendiri di tengah pekarangan (membuat gubuk), dan hal itu berlangsung sampai empat tahun.

Baca Juga:   Menggapai Berkah Ramadan

Karena merasa ditolak oleh istri dan selalu diancam akan dibunuh oleh ipar-iparnya, maka Kiai Arfiyyah meninggalkan Sewulan, pergi menuju ke arah timur. Perjalanan itu baru berhenti setelah sampai di Kuncir. Setelah tinggal beberapa saat di Kuncir, kemudian menuju Mojoduwur. Di sanalah Mbah Arfiyyah melakukan babat alas, tempat yang kini dikenal sebagai Desa Mojoduwur. Di tengah hutan itu, Mbah Arfiyyah membuka lahan untuk mendirikan masjid. Dinamakan Mojoduwur karena pada saat Kiai Arfiyyah melakukan babat alas, di sana ada tumbuhan (pohon) Mojo yang tinggi (duwur dalam bahasa Jawa)

Baca Juga:   Ekspresi Religi Lewat Seni

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan