Santri dan Dakwah Digital

928 kali dibaca

Era digital telah menjadikan manusia semakin terbuka dan mudah dalam bertukar wawasan. Dalam sepersekian detik saja, sebuah informasi dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia, dengan hanya bermodalkan gadget yang dilengkapi paket data yang tentunya dengan biaya yang amat murah.

Beberapa survei menyatakan bahwa Indonesia masuk dalam 5 besar dari negara pengguna gadget terbanyak, yakni lebih dari 100 juta pengguna. Namun demikian ini, bukan berarti tidak ada masalah. Justru dengan mudahnya akses, membuat siapa saja dapat menyebarkan berita hoaks maupun provokasi yang tentu berimbas terhadap pecah belahnya persatuan masyarakat.

Advertisements

Lebih-lebih dalam hal beragama, yang notabene bersifat privasi dan sangat sensitif. Banyak orang yang tetiba sok-sokan menjadi ustaz, nukil ayat nukil hadis dalam setiap postingan di akun medsosnya, ceramah sana-sini tanpa dasar keterangan yang kuat, saling debat dan caci jika beda pendapat, dan parahnya lagi, agama dijadikan bahan untuk menyalahkan-mengkafirkan orang bilamana tak satu paham.

Baca juga:   Berandai-andai Indonesia Menjadi Khilafah

Di titik ini, perlu dipertanyakan ulang, sebenarnya siapakah yang disembah oleh orang yang model beragamanya seperti itu? Menyembah Tuhan, atau malah egonya sendiri?

Jelas, tentu Tuhan mengajarkan kasih dan sayang. Mewajibkan setiap hambanya untuk selalu berbuat baik, berprasangka baik, maupun mendidiknya untuk benar-benar mengamalkan segala kebaikan. Bukan malah membenci orang lain hanya gegara beda agama atau pemahaman mengenai agama.

Fenomena tersebut, biasanya datang dari orang-orang yang memiliki semangat beragama tinggi, namun tidak dibarengi dengan pengkajian secara mendalam. Jika keadaan seperti itu dibiarkan, maka akan memperparah keadaan. Terlebih, Islam menjadi agama yang mayoritas di Indonesia sehingga peluang untuk perpecahannya pun sangat lebar. Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan pihak-pihak yang konsen dan terjun langsung dalam literasi agama di dunia maya sehingga pemahaman-pemahaman agama yang dangkal dan sembarangan dapat dihindarkan.

Baca juga:   Pesantren sebagai Penjaga Bahasa Daerah (Sunda)

Jika hanya dengan baca buku, lihat di Google, merupakan cara yang kurang atau bahkan tidak tepat dalam mempelajari agama. Agama diturunkan dan disebarkan secara bersanad. Sanad di sini, maksudnya ialah mempelajari agama secara runtun dengan guru. Dan guru tersebut juga mempelajari dengan guru gurunya, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tabi’in, sahabat, dan berakhir di Rasulullah SAW.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan