Sang Muazin Turun Gunung

Mbah Azwan adalah seorang muazin yang sangat dikagumi masyarakat desa. Dia memang berasal dari luar desa Kaligadung, dan sengaja datang ke sana untuk berguru pada Kiai Marzuki. Asal-usulnya tak jelas, bahkan pada Kiai Marzuki beliau hanya menjawab, “Saya seorang pejalan yang ingin belajar mengaji.”

Pada awal kedatangannya, beliau tak bisa mengeja huruf dalam bahasa Arab sama sekali. Tapi satu yang dia hafal di luar kepala adalah kalimat azan. Sejak saat itu beliau dijadikan sebagai seorang muazin. Suaranya merdu dan lantang, lengkap dengan langgam Jawa yang begitu menyentuh.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Setelah sekian tahun di sana, Mbah Azwan muda menjadi sangat akrab dengan masyarakat desa. Tindak tanduknya yang penuh dengan budi begitu menyentuh hati masyarakat. Meski masih belum bisa mengaji dengan lancer, ketekunan Mbah Azwan dalam beribadah dan etos kerjanya tak bisa diremehkan. Dia yang masih muda saat itu menjadi abdi dalem. Bayaran hanya boleh mengaji pada Kiai Marzuki, yang namanya sudah dikenal bahkan ke berbagai kecamatan sebelah. Selain ditugaskan untuk menggarap lahan milik pesantren, dia juga harus mencari pakan untuk ternak-ternak di sana. Mbah Azwan juga mudah bergaul dengan para santri lain yang ada di sana.

Baca Juga:   Bau Amis Laut

Banyak jemaah pengajian yang meminta Mbah Azwan muda untuk menjadi menantunya. Namun saat ditanya, jawabannya pun sama. Dia menyerahkan semua hal itu pada Kiai. Baginya hanya ada satu niat kenapa jejaknya terhenti di desa itu.

“Kamu ini gimana toh, Wan? Sudah ditawari anak gadis orang berulang kali, kok kamu tolak,” ujar Najib, teman Mbah Azwan dalam mencari rumput.

Baca Juga:   Nilai-nilai Pancasila dalam Kehidupan Santri

“Aku ini malu, Jib.”

“Lah kenapa?”

“Aku ini orang luar, niatku ke sini cuma buat bisa ngaji.” Najib hanya bisa menggelengkan kepala.

Tinggalkan Balasan