PUISI UNTUK BAPAK

24 kali dibaca

PERTANYAAN PANJANG

β€œMengapa ikan tidak berenang saja pada dingin udara pagi?
Bukankan lebih senang berenang bersama kicau burung pipit?
Lalu bertengger pada ranting pohon jati yang hampir tumbang
Bersahut ceritakan betapa buruk mimpi semalam
Atau menghujat deras hujan menjatuhkan berkilo-kilo bakal kopimu?”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tanyaku suatu perjamuan pagi,
pada cinta pertamaku.

Yogyakarta, 2021.

PELUK UNTUK BAPAK

Masih tersisa lima teguk robusta-mu
Semut-semut kecil merayakan rindu pada tipak ranum bibir itu
Hangat dan manisnya beku pada masa yang terburu

Sekali lagi,
Aroma keretekmu-mu membaur di dadaku
Berpesta dengan tungku kepelikan

Kusemai mawar biru pada istanamu
; yang akarnya menyangga kepenatan

Bibit mawarku kehausan
; maka ribuan doa kusiramkan

Kuingatkan,
Setiap senja pada ujung minggu
Kau mesti memanen kelopak mawar itu

Yogyakarta,2020.

Β 
INGAR-BINGAR DADAMU

Telah tergores rapi jauh di tepian purnama tahun ketiga
Kekar bahumu yang hampir terbungkuk direnggut masa
Kuceritakan pada putih dinding kehidupan
Lalu laba-laba belang memintalnya
pada rumah-rumah kecil di pojok dinding

Pada dadamu yang berisik setiap petang
Akan kusuguh tiga gelas wedang,
yang mendinginkan
yang menghangatkan
yang menyehatkan

Peluklah setiap teguknya lalu
semayamkan pada dada berisikmu.

Yogyakarta,2020.

3 Replies to “PUISI UNTUK BAPAK”

Tinggalkan Balasan