Puasa dan Kesehatan Raga

672 kali dibaca

Beberapa waktu lalu, saya mendapat keluhan dari seorang teman yang usianya masih di bawah tiga puluhan tahun (penulis tidak bisa menyebutkan namanya). Tubuhnya cukup tambun dan subur. Dia mengeluhkan tentang utang puasanya tahun lalu yang belum juga dilunasi hingga menjelang Ramadan tahun ini (1443 H/2022 M). Alasannya, karena dia mengidap beberapa penyakit. Di antaranya penyakit jantung, kencing manis, gondok, maag atau asam lambung, hipertensi, dan kolesterol.

Dari sekian penyakit tersebut, teman saya itu harus mengonsumsi berbagai macam jenis obat untuk mengobati penyakitnya. Sehingga dalam tenggang waktu setahun, ia tidak dapat mengganti (qada) puasanya karena harus mengonsumsi makanan untuk mengingiringi konsumsi obatnya. Saya bertanya; apakah dia makannya normal?  Ia menjawab sangat normal. Bahkan selalu makan.

Advertisements

“Shumuu tashihhu” (berpuasalah, niscaya engkau akan sehat).” Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tahbrani ini menunjukkan bahwa puasa yang merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslimim adalah salah satu “detox” paling mujarab untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Secara naluriah, manusia selalu berkeinginan untuk memenuhi berbagai macam tuntutan nafsunya. Dalam hal ini, nafsu untuk memakan makanan beraneka ragam dan berlebihan. Menurut Ahmad Syarifuddin dalam bukunya Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis (Gema Insani 2003, hal 99), makanan yang dikonsumsi manusia dapat di klasifikasi menjadi tiga tingkatan.

Pertama, tingkatan hajat (makanan yang di butuhkan), yaitu beberapa suap makanan sekadar untuk bisa menegakkan tulang. Kedua, tingkatan kifayah (ukuran kecukupan), yaitu makanan yang mengisi sepertiga perut, sedangkan sepertiga untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk pernapasan. Ketiga, tingkatan fudlah (makanan yang kelewat batas) dan berlebih-lebihan, yaitu makanan yang mengisi perut lebih dari sepertiganya.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi, “Seorang anak Adam (manusia) tidak memenuhi suatu tempat yang lebih jelek  dari pada perut (lambung). Cukuplah  bagi anak Adam itu beberapa suap makanan yang sekadar bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika menuntut harus di penuhi, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk pernapasannya.

Kita tahu bahwa semua jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia akan masuk dan tersimpan di lambung. Sedangkan, lambung ada di bagian perut. Pernapasan manusia berpusat di paru-paru dan paru-paru terdapat dalam bagian dada. Rongga perut dan dan rongga dada letaknya bersusun. Di antara ronga perut dan rongga dada terdapat sekat. Sekat ini berupa jaringan pengikat dan otot. Jika perut tersisi penuh, maka sekat tersebut terdesak ke atas sehingga  mempersempit ruang gerak paru-paru. Akibatnya, ia akan mengganggu kelancaran pernapasan.

Lambung yang merupakan salah satu organ pencernaan ini oleh Imam Al-Ghazali dan Imam Nawawi disebut sebagai sarang penyakit. Beberapa ahli medis juga menyebutnya demikian. Namun, meski begitu, Allah SWT telah menciptakan organ tubuh manusia dalam keadaan sangat sempurna, otomatis, dan teratur. Organ tubuh juga dilengkapi dengan pengaman sehingga terlindungi dan steril dari virus-virus maupun bakteri-bakteri penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh.

Baca juga:   Ramadhan dan Keharmonisan Sosial

Lantas mengapa lambung disebut sebagai sarang penyakit? Karena ia digunakan oleh sebagian manusia secara berlebihan atau melampaui batas serta hilangnya kontrol dalam menguasai diri dengan membiasakan makan-makan dan minum sepuasnya, yakni di atas kapasitas alat cerna itu. Hal itu, menurut dr Zaidul Akbar, akan menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan serangan jantung, peningkatan lemak darah, kolesterol, kencing manis atau diabetes mellitus.

Terdapat hubungan erat antara fungsi perut dan fungsi seluruh tubuh sehingga tidak ada penderitaan pada alat tubuh atau gangguan atas susunannya kecuali perut terbawa-bawa olehnya. Ini adalah bukti yang menegaskan pula kesatuan tubuh yang sakit. Dr Ahmad Ramali menjelaskan, bahwa sumber kesengsaraan manusia, penderitaan jasmani, tekanan jiwa, dan berbagai penyakit lainnya, masih lebih didominasi oleh penyakit perut.

Dokter Arab terkenal pada masa Rasulullah saw bernama al-Haris bin Khaldah pernah ditanya, “Apakah esensi obat?” dia menjawab, “Melakukan diet dangan tepat”. Dalam hal ini, dia memiliki ungkapan yang cukup terkenal yang dijadikan dasar ilmu kedokteran hingga kini. Ungkapan tersebut berbunyi, “Lambung adalah rumah penyakit dan diet adalah pangkal segala obat.”

Dari ungkapan di atas, tidak mengherankan jika orang-orang yang rakus dengan segala macam makanan umumnya lebih sering ditimpa penyakit dibandingkan dengan orang-orang yang makanannya hanya terdiri dari satu macam saja. Variasi makanan memang di perlukan yang terdiri dari empat sehat lima sempurna, yaitu nasi, (jagung), daging, ikan, telur, sayuran, buah-buahan dan susu, asalakan dimakan  dengan tidak berlebihan.

Hal ini didukung oleh pernyataan Dr Alexis Karl, seorang doktor ahli bedah dan psikiater Amerika, yang mengatakan bahwa sesungguhnya makan banyak dan berlebihan dapat merusak atau mengganggu fungsi pencernaan. Padahal besar sekali fungsi makan bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, perlu adanya peran pengaturan (diet) makanan. Dengan demikian, manusia hendaklah mengharuskan dirinya untuk melakukan puasa selama beberapa waktu.

Kita tahu bahwa puasa bukan hanya di lakukan oleh umat Islam, tetapi semua agama selalu mengajak pemeluknya melakukan puasa dan menghentikan makan. Karena dengan puasa ini pertama-tama manusia merasa lapar sehingga kadang-kadang menimbulkan gangguan fisik  yang kemudian diikuti dengan rasa lemah. Akan tetapi, disamping itu puasa mempunyai dampak yang sangat positif yang jauh lebih berfaedah dari pada kelemahan fisik, yaitu menormalkan denyut jantung, membakar lemak yang ada di bawah kulit, memfungsikan cadangan protein dan mengurangi intensitas kerja hati, sehingga dapat melestarikan keseimbangan organ-organ dalam kesehatan jantung.

Baca juga:   Nabi dan Kucingnya

Selama bulan Ramadan (29/30 hari), sistem pencernaan mendapat istirahat 6 jam sehari selama sebulan penuh. Mengingat, selama 11 bulan di luar Ramadan sistem pencernaan dibebani pekerjaan bertumpuk dan tanpa istirahat, maka istirahat sehari selama sebulan sangat relevan dan sesuai dengan sunnatullah mesin atau alat apa saja. Demi untuk kesehatan dan kekuatan, mesin tersebut tidak boleh dipekerjakan secara terus-terusan. Harus ada waktu-waktu untuk istirahat secara periodik.

Maka, dengan berpuasa, berarti memberikan kesempatan interval selama kurang lebih empat belas jam bagi kerja organ-organ tubuh, seperti lambung, ginjal, dan liver. Selama itu, tubuh tidak menerima makanan maupun minuman sehingga menimbulkan efek berupa rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan, dan organ tubuh. Efek rangsangan ini menghasilkan, memulihkan, dan meningkatkan fungsi-fungsi organ sesuai fungsi biologisnya, misalnya pancaindera menjadi lebih tajam.

Selain itu, puasa bermanfaat untuk menjaga daya tahan tubuh, sehingga taraf kesehatan menjadi prima dan terpelihara. Gerak dan mekanisme tubuh dalam keadaan fresh dan rileks, sehingga memberi kesempatan kepada sel-sel dan jaringan-jaringan tubuh untuk memperbarui diri setelah sekian lama terus menerus bekerja.

Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan puasa. Dengan kesiapan mental dan niat yang tulus, maka lambung secara otomatis akan menerima stimulasi dari otak, sehingga lambung menjadi kuat dan siap untuk menjalankan puasa. Dengan  berpuasa juga  dapat melestarikan keseimbangan organ-organ tubuh dan mengukuhkan jalinan seluruh saraf yang ada dalam tubuh kita. Hanya orang-orang yang rakus dengan segala jenis makanan dan minumanlah yang lebih sering ditimpa penyakit-penyakit kronis dan menahun. Atas dasar ini pula, maka perlu adanya suatu usaha pengendalian diri dari mengonsumsi makanan dan minuman secara berlebihan dan melampaui batas. Hal ini di sebut dengan diet atau berpantang (al-Himyah).

Banyak sekali orang-orang kuno dan ulama-ulama kita terdahulu yang melakukan tirakat puasa justru lebih sehat dan daya tahan tubuhnya lebih stabil. Kita pun percaya bahwa syariat Islam, dalam hal ini puasa, datang bukan untuk mendatangkan kemudaratan bagi umatnya. Tapi sebaliknya, ia akan mendatangkan kebaikan, terutama untuk kesehatan raga kita.

Semoga bermanfaat.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan