Puasa dan Kesehatan Raga

590 kali dibaca

Beberapa waktu lalu, saya mendapat keluhan dari seorang teman yang usianya masih di bawah tiga puluhan tahun (penulis tidak bisa menyebutkan namanya). Tubuhnya cukup tambun dan subur. Dia mengeluhkan tentang utang puasanya tahun lalu yang belum juga dilunasi hingga menjelang Ramadan tahun ini (1443 H/2022 M). Alasannya, karena dia mengidap beberapa penyakit. Di antaranya penyakit jantung, kencing manis, gondok, maag atau asam lambung, hipertensi, dan kolesterol.

Dari sekian penyakit tersebut, teman saya itu harus mengonsumsi berbagai macam jenis obat untuk mengobati penyakitnya. Sehingga dalam tenggang waktu setahun, ia tidak dapat mengganti (qada) puasanya karena harus mengonsumsi makanan untuk mengingiringi konsumsi obatnya. Saya bertanya; apakah dia makannya normal?  Ia menjawab sangat normal. Bahkan selalu makan.

Advertisements

“Shumuu tashihhu” (berpuasalah, niscaya engkau akan sehat).” Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Tahbrani ini menunjukkan bahwa puasa yang merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslimim adalah salah satu “detox” paling mujarab untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Baca juga:   Unjuk Rasa di Bulan Puasa

Secara naluriah, manusia selalu berkeinginan untuk memenuhi berbagai macam tuntutan nafsunya. Dalam hal ini, nafsu untuk memakan makanan beraneka ragam dan berlebihan. Menurut Ahmad Syarifuddin dalam bukunya Puasa Menuju Sehat Fisik dan Psikis (Gema Insani 2003, hal 99), makanan yang dikonsumsi manusia dapat di klasifikasi menjadi tiga tingkatan.

Pertama, tingkatan hajat (makanan yang di butuhkan), yaitu beberapa suap makanan sekadar untuk bisa menegakkan tulang. Kedua, tingkatan kifayah (ukuran kecukupan), yaitu makanan yang mengisi sepertiga perut, sedangkan sepertiga untuk minuman dan sepertiga lainnya untuk pernapasan. Ketiga, tingkatan fudlah (makanan yang kelewat batas) dan berlebih-lebihan, yaitu makanan yang mengisi perut lebih dari sepertiganya.

Baca juga:   Kearifan Kiai Habib

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi, “Seorang anak Adam (manusia) tidak memenuhi suatu tempat yang lebih jelek  dari pada perut (lambung). Cukuplah  bagi anak Adam itu beberapa suap makanan yang sekadar bisa menegakkan tulang punggungnya. Jika menuntut harus di penuhi, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk pernapasannya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan