Pesantren dan Kitab Klasik

276 kali dibaca

Membincang antara pesantren dan kitab klasik ibarat melihat dua sisi mata uang. Satu sama lain adalah hal yang seolah-olah tidak bisa dipisahkan. Siapa pun ketika membahas pesantren secara tidak langsung pula harus menyinggung kitab-kitab klasik di dalamnya.

Posisi saya di sini hendak menegasi hal tersebut, bagaimana sejatinya pesantren dan seharusnya. Tetapi, saya harus terlebih dahulu mengakui bahwa pesantren memang tidak bisa terlepas dari kitab klasik. Namun, saya juga memberi semacam jalan alternatif bahwa hal itu (kitab klasik) bukan satu-satunya hal yang niscaya dan tak tergantikan dalam tubuh pesantren. Dari titik ini, saya mungkin akan memulai bahwa pesantren juga bisa keluar dari kungkungan kitab klasik tersebut.

Advertisements

Keluar bukan berarti harus meninggalkan, melainkan menjadikan sesuatu yang baru sebagai penyerta. Dengan demikian, kitab klasik tidak menjadi hal tunggal yang ada. Eksistensi kitab klasik membutuhkan penunjang lain sebagai kekayaan wawasan. Saya kira, memasukkan buku yang notabene bukan bahasa Arab juga tak kalah penting. Kita membaca hal tersebut dari sudut pandang dunia hari ini yang serba komplit. Zaman bergerak tak terhenti dan keadaan menuntut siapapun—termasuk santri—memiliki wawasan luas. Dari sana, keberadaan kitab klasik di pesantren mungkin mulai terguncang, atau sengaja digunjang. Secara kasar, kita bisa bilang, tidak mungkin untuk terus-terusan belajar dari satu sumber.

Baca juga:   Syarah Hadits pada Awal Peradaban Islam

Belajar dari kitab klasik adalah penting. Di sisi yang lain kita harus waspada dan tidak lengah terhadap tantangan yang jauh lebih besar. Santri secara tidak langsung dituntut untuk kosmopolit. Dalam artian, wawasan yang dimilikinya tidak harus dan hanya bersumber dari kitab-kitab klasik. Persaingan dan masa depan pesantren juga bisa dimulai dari sana. Kita paham bahwa merawat tradisi lama adalah keharusan. Namun, inovasi dan pembaruan merupakan keharusan lain. Pada akhirnya kita memang akan sedikit pelan-pelan mulai merangkak dari kitab klasik. Cepat atau lambat—meski tidak mengabaikan—kita juga akan menerima hal lain, selain dari kitab klasik.

Baca juga:   Tak Hanya Gajah yang Meninggalkan Gading

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan